Kunjungan Raja Salaman Ke Indonesia: Antara Kegembiraan dan Kekhawatiran

KokopNews, Kunjungan Raja Salaman Ke Indonesia: Antara Kegembiraan dan Kekhawatiran - Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abd Aziz Al Saud ke Indonesia membuat jagat pemberitaan media baik eletronik, cetak dan online heboh. Bahkan kehebohan tersebut dimulai jauh sebelum kedatangan Raja Salman.

Kunjungan Raja Salaman Ke Indonesia: Antara Kegembiraan dan Kekhawatiran

Hal ini tentu membuat masyarakat semakin akrab dengan hal-hal yang berbau Arab. Padahal sebelumnya, masyarakat agak risih dengan budaya arab, bahkan ada sekelompok orang yang berusaha menghilangkan apapun yang bernuansa arab.

Walaupun negeri ini dihuni oleh mayoritas umat Islam akan tetapi dalam hal kiblat gaya hidup sepertinya lebih condong  pada budaya Barat dibanding dengan budaya Arab. Mereka yang agak terganggu dengan budaya Arab biasanya berdalil bahwa Islam bukan Arab. Islam adalah agama yang bisa berkembang dimana saja tanpa harus mencirikan diri sebagai orang Arab.

Menurut mereka, model Islam yang berkembang di Arab tidak bisa dipakai untuk berislam di bumi Nusantara. 

Memang betul apa yang mereka katakan itu, bahwa Islam diturunkan oleh Allah SWT sebagai pedoman hidup umat manusia. Sebagai agama paripurna dengan aspek ajarannya yang sangat luas yang meliputi segala aspek kehidupan, Islam bisa hidup dan berkembang di mana saja. Islam tidak diturunkan hanya untuk orang Arab. Islam adalah agama untuk semua manusia dari berbagai bangsa. 

Namun, apa yang mereka maksudkan dengan statement Islam bukanlah Arab terkesan menolak secara total hal-hal yang berasal dari Arab. Padahal Arab adalah bumi dimana Islam diturunkan. Nabi Muhammad SAW yang ditunjuk oleh Allah SWT untuk menerima Islam dan menyebarkannya kepada umat manusia adalah lahir di Arab dan menyebarkan agama Islam juga dimulai dari bumi Arab, sehingga banayak tradisi Arab yang diadopsi dan menjadi bagian dari jaran Islam. 

Nah, semenjak Raja penjaga dua kota suci Mekkah dan Madinah itu berkunjung ke Indonesia maka hal-hal yang berbau Arab banyak orang yang ingin tahu. Bahkan tidak sedikit masyarakat Indonesia yang ingin meniru gaya hidup orag Arab mulai dari memelihara jenggot sampai pada pernak-pernik yang menjadi ciri orang Arab.

Hal tersebut tidak lepas dari gencarnya pemberitaan secara massif mengenai Raja Salman dan puluhan pangeran yang ikut serta dalam rombongan. Kalau kita baca media Online tentu kita dengan mudah mendapati liputan mengenai hal-hal yang berbau arab itu. Jika tidak percaya silahkan ketik kata kunci Raja Salman atau kata apapun yang berhubungan dengan arab dihalaman pencarian google, maka pasti kita dihadapkan pada pilihan artikel yang mengulas segala aspek yang berhubungan dengan Arab.

Di beberapa media online yang saya baca ada yang mengulas tentang tampannya orang arab dengan jenggot yang lebat sehingga banyak artikel yang mengulas tentang menumbuhkan jenggot seperti orang Arab. Ada lagi ulasan mengenai buah kurma yang bisa dijadikan bahan untuk merawat kulit dan rambut.

Namun, dibalik gegap gempita penyambutan Raja Salman itu muncul kekhawatiran akan lebih majunya gerakan wahhabiyah yang pekerjaannya suka mengkafir-kafirkan kelompok yang tidak sepaham dengan mereka.

Wahhabi didirikan oleh Muhammad bin Abd Wahhab dengan tujuan memurnikan agama Islam dari pengaruh takhayyul, khurofat dan bid'ah atau yang biasa disebut TBC.

Pekerjaan utama mereka adalah membid'ahkan dan bahkan mengkafirkan orang yang menurut mereka melakukan amaliyah munkar karena tidak pernah dilakukan di zaman nabi dan para sahabat.

Kekhawatiran ini sangat beralasan karena sebagaimana kita tahu bahwa Arab Saudi merupakan pusat dan tempat lahirnya aliran Wahhabi. Dan Arab Saudi lah yang mensponsori aliran ini dengan menggelontorkan dana yang besar untuk membiayai seluruh kegiatan yang dilakukan kelompok wahhabi.

Jadi, sebagai pengikut Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) kita tentu serba salah dalam menyikapi kunjungan Raja Salman beserta rombongannya yang sangat banyak ke Indonesia. Disatu sisi kita tentu bahagia karena Raja sebuah negeri yang menjadi tempat lahirnya Islam sekaligus kiblat seluruh umat Islam di dunia berkunjung ke negara kita.

Setidaknya agar saudara kita yang beragama selain Islam tahu bahwa kita, umat Islam, mempunyai Raja yang sangat disegani. Disamping itu, kebencian terhadap hal-hal yang berbau Arab setidaknya bisa dikurangi.

Akan tetapi disisi lain kita khawatir kedatangan Raja Salman akan menjadi promosi aliran Wahhabi memgingat ia menjadi ikon sebuah negara yang ideologi wahhabi.

Maka tidak heran jika kunjungan Raja Salman itu tidak begitu mendapat reapon dari masyarakat NU karena memang kita tahu bahwa kerjaan Arab Saudi sudah tidak sepaham dengan NU.

Dengan demikian, kunjungan Raja Salman menjadi dilema antara harus gembira dan khawatir.

Tulis email anda untuk berlangganan update berita gratis: