Kenapa Kebiasaan Baik di Bulan Ramadlan Tidak Bertahan Lama?, Ini Jawabannya


Kenapa Kebiasaan Baik di Bulan Ramadlan Tidak Bertahan Lama?, Ini Jawabannya

Arti Penting Bulan Puasa/Ramadlan

Pembentukan kebiasaan (habit forming).

Menjadi penting bagi setiap manusia untuk meninggal/mati dalam keadaan baik. Mengapa penting? Karena yang pertama, mati untuk seorang manusia adalah keniscayaan dan karena yang kedua bahwa Islam mengenal/mempercayai kehidupan setelah mati (after life). 

Untuk itulah mati dalam keadaan baik (khusnul khatimah) menjadi relevan untuk diwujudkan. Permasalahannya adalah berbagai macam value dan informasi yang bertebaran di dunia ini, sampai sejauh mana seorang manusia muslim dapat meninggal dalam keadaan berkesesuaian dengan value Islam ataupun berada dalam kondisi takwa. Takwa ini didefinisikan melakukan apa yang diinginkan Tuhan dan menjauhi setiap larangan-Nya. Belum lagi variabel godaan syaitan:

“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,”  (Qs. al-A’raf [7]: 16)

Singkatnya, mati atau meninggalnya manusia adalah kepastian. Menariknya, waktu mati setiap kita tidak ada yang tau. Yang membuat semakin menarik adalah, manusia tidak punya alat audit pahala-dosa yang valid sehingga harusnya kita selalu "was-was" akan "bekal" yang akan kita bawa nanti menuju kematian. Untuk itu, penting untuk menjamin kita meninggal dalam keadaan baik (khusnul khatimah) dalam 12 bulan yang ada dalam satu tahun yang ada. Di mana pun itu Allah SWT takdirkan.

Only the paranoid survive - Andy Groove (Former COO, Chairman and CEO, senior advisor Intel Corporation)

Nah, ini yang menjadi challange-nya!

Untuk itulah, maka Allah SWT membuat sebuah mekanisme habit forming yang secara alamiah dapat mendekatkan manusia muslim pada sebuah pola kebiasaan yang akan lebih mendekatkan dengan ketakwaan. 
Mekanisme itu kita kenal dengan sebutan ibadah Ramadan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).

Meski yang di-mentioned dalam surat Al Baqarah 183 hanyalah tentang ibadah puasa di bulan Ramadan untuk mencapai derajat takwa, tetapi sesungguhnya Allah SWT banyak sekali memberikan “insentif” bagi para muslim yang beribadah dalam bulan ini dalam rangka untuk mengontrol perilakunya. 

Lalu, apa hubungannya dengan pembentukan kebiasaan (habit forming)?

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di University College London (UCL),  disebutkan bahwa:

"It takes an average 66 days to form a new habit, according to new research by Phillippa Lally and colleagues from the Cancer Research UK Health Behaviour Research Centre based at UCL Epidemiology and Public Health”

Intinya, setiap orang memiliki “kuota waktu forming habit-nya” masing-masing. Di penelitian tersebut dibutuhkan rata-rata 66 hari (sekitar 2 bulan) untuk mengubah perilaku (behaviour) menjadi kebiasaan (habit).

Dalam konteks ini, untuk itulah maka Islam "menggandeng" 3 bulan sebelum dan sesudahnya (Rajab, Sya’ban, dan Syawal) sebagai “paketan” bulan-bulan yang dimuliakan di sekitar Ramadan.

Dengan mengoptimalkan 4 bulan yang dimuliakan tersebut (Rajab, Sya’ban, Ramadan, dan Syawal), kuota 66 hari dalam rangka membentuk habit, niscaya akan terpenuhi. Dengan kebiasaan takwa yang ada dalam diri kita, bekal kita dalam menghadapi mati menjadi relatif lebih jelas. 

Membentuk habit menuju takwa. Mempersiapkan kematian. 
Untuk itulah mengapa Ramadan menjadi penting!

Oleh : Ma Isa Lombu (Pendiri dan CBDO Selasar.com)

Tulis email anda untuk berlangganan update berita gratis: