Kritikan Pedas Uchok Sky: Apa Lagi Yang Mau Digadaikan Menkeu Sri Mulyani?


Kritikan Pedas Uchok Sky: Apa Lagi Yang Mau Digadaikan Menkeu Sri Mulyani?

KOKOPNEWS.ID - Pernyataan Mentri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati yang mengatakan defisit anggaran sebesar 2,62 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) mengindisikan bahwa ekonomi negara masih berada dalam kondisi stabil mendapat kritikan pedas dari Direktur Eksekutif Centre for Budget Analisis (CBA) Uchok Sky Khadafi.

Menurut SMI, defisit anggaran per 15 Desember itu masih jauh di bawah batasan maksimum yang ditetapkan dalam Undang-Undang APBNP sebesar 2,92 persen.
Uchok mengatakan dirinya tidak setuju jika ekonomi negara dibilang stabil dalam kondisi defisit 2,62 persen seperti pernyataan Sri Mulyani.

"Saya tidak setuju kalau ekonomi negara stabil dengan defisit 2,62 persen," katanya saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL melalui pesan WhatsApp, Jumat (29/12).

Uchok mengakui bahwa kalau mengacu pada UU APBNP, angka 2,62 persen memang masih terbilang jauh. Namun, untuk menutup defisit anggaran tersebut, pemerintah harus melakukan langkah antisipatif.

Uchok mempertanyakan apa langkah yang diambil pemerintah untuk mengatasi masalah defisit anggaran tersebut.

"Untuk menutup defesit anggaran ini, solusi menteri keuangaan apa? Apa lagi yang mau 'digadaikan' Sri Mulyani sehingga bisa menutupi defesit sebesar Rp 352.7 Triliun?," ketusnya.

Lebih lanjut, dia mengusulkan kepada mentri keuangan bahwa langkah yang harus diambil pemerintah harus berupa ide segar yang inovatif.

Kalau pemerintah dalam hal ini Menkeu mengandalkan pemasukan negara dari sektor pajak padahal data beli masyarakat sedang lemah, mustahil defisit anggaran itu bisa teratasi.

"Kemungkinan Sri Mulyani, bisa hanya bisa jual surat utang negara dengan bunga yang tinggi. Jadi tetap saja, solusinya untuk menutup defisit dengan cara cari utang baru. Tetapi, kalau tahun 2018, sumber utang baru tidak diperoleh, pajak tidak bisa digenjot, solusi hanya dua, yaitu jual aset atau pemangkasan anggaran kementerian dengan alasan efesiensi anggaran," ujarnya[rmol]

Tulis email anda untuk berlangganan update berita gratis: