3 Persamaan dan Perbedaan NU dan FPI

3 Persamaan dan Perbedaan NU dan FPI

3 Persamaan dan Perbedaan NU dan FPI

Oleh : M. Kholid Syeirazi
Sekretaris Jenderal PP Ikatan Sarjana NU, 

Banyak orang bertanya, apa bedanya NU dengan FPI? Apa pula persamaannya? FPI ditulangpunggungi para habib. Untuk urusan ta’dzimkepada habib, orang NU tidak ada duanya.

3 Persamaan dan Perbedaan NU dan FPI
NU Online
Sejak kecil, para santri dididik menghormati keturunan Rasululllah. Di Pekalongan, kota kelahiran saya, salim dengan habib merupakan berkah luar biasa. Untuk itu, jika sowan atau bertemu habib, cara bersalamannya pun tidak cukup cium tangan sekali, tetapi berkali-kali dan dibolak-balik.
Kalau tidak percaya, datang ke Pekalongan, sowan ke Habib Luthfi atau Habib Baqir. InsyaAllah akan jumpa bahwa yang salaman ke habib dengan cara tangan dibolak-balik itu bukan hanya santrinya, tetapi juga Kiainya..
Para Kiai NU sangat menghormati habib, termasuk Gus Dur. Dulu, ketika Ketua MUI KH Hasan Bisri meragukan eksistensi keturunan Rasulullah di Indonesia, Gus Dur membela para habib.
Salah seorang yang diyakini sebagai keturunan Rasululullah itu bernama Habib Riziek Syihab (HRS), pendiri Front Pembela Islam (FPI). Apa semua habib sama? Pasti tidak. Ada yang mendukung pola dakwah HRS, ada juga yang tidak. Belakangan, NU dan FPI sering bersitegang di lapangan. Kenapa ini terjadi? Titik temu dan titik beda NU dan FPI bisa dilihat dari tiga matra, yaitu âmaliyyahfikrah, danharakah.
Pertama, secara ‘amaliyyah ubûdiyyah, tradisi NU dan FPI memiliki persamaan, yaitu sama-sama pelaku tradisi, sama-sama ‘pengamal bid’ah’. NUqunut, FPI qunut. Terawehnya sama-sama 20 rakaat. Sama-sama gemar salawatan, tahlilan, dan ziarah kubur. Salawatannya sama-sama pakai kata ‘sayydina’. Jelas kedua-duanya bukan penganut Islam puritan.
Untuk itu, FPI pasti tidak cocok dengan aliran Islam yang mengusung agenda purifikasi. Dalam soal ini, FPI akur dengan NU dan ‘bentrok’ dengan Wahabi, HTI, Islam modernis, dan aliran lain yang agendanya adalah memberantas TBC (tahayul, bid’ah, danchurafat).
Kedua, secara fikrah, FPI akur dengan NU dalamfikrah dîniyyah (pemikiran keagamaan), tetapi ‘bentrok’ dengan NU dalam fikrah siyâsiyyah(pemikiran politik). Dalam dîniyyah, NU dan FPI sama-sama pengikut ajaran Abu Hasan al-Asy’ari dalam tawhid, pengikut Imam Syafi’i dalam fikih, dan al-Ghazali dalam tasawuf.
HRS, dalam berbagai kesempatan, menegaskan dirinya sebagai penganut Asy’ari dan menyerangi’tiqad Salafi-Wahabi. Oleh para pengikut Wahabi, HRS juga kerap dituduh Syi’ah, sama seperti KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU. Dalam fikrahsiyâsiyyah, FPI berseberangan dengan NU.
NU menyatakan NKRI final, dalam bentuk sekarang. HRS menginginkan NKRI Bersyariah. Agendanya seperti Piagam Jakarta. Dalam isu ini, FPI ‘bentrok’ dengan NU dan punya titik temu dengan sejumlah ormas Islam yang mendukung agenda formalisasi syariat Islam, entah itu HTI, Wahabi, atau sebagian partai eks-Masyumi yang mengusung isu formalisasi syariat Islam.
Ketiga, dalam harakah (gerakan), NU dan FPI cenderung ‘bentrok.’ Dakwah NU mengusung prinsiptawassuth (moderasi), tasâmuh (toleransi), tawâzun(proporsional), dan i’tidâl (tidak berat sebelah). NU juga meyakini prinsip التدريج في التشريع yaitu alon-alon, bertahap dalam dakwah dan mengamalkan syariat Islam.
NU mengayomi budaya dan meyakini syariat Islam bisa diterapkan secara swadaya oleh masyarakat, tanpa legislasi dan campur tangan negara. Pemberlakukan syariat Islam yang perlu campur tangan negara, seperti hudud, bisa diganti dengan hukuman lain yang bisa diterima semua pihak. Dalam harakah, FPI punya titik temu dengan gerakan Islam transnasional yang mengusung agenda formalisasi syariat Islam.
FPI juga resisten dengan adopsi budaya lokal sebagai medium dakwah. Karena itu, HRS dengan keras menolak diskursus Islam Nusantara dan memelesetkannya dengan istilah yang kurang sedap.
Ala kulli hâl, dari tiga matra, satu setengah FPI cocok dengan NU, satu setengah yang lain FPI berbeda dengan NU. Namun, dibanding kepada ormas Islam puritan, FPI lebih dekat secara ‘amaliyyah dengan NU dan karena itu punya potensi untuk beraliansi strategis.
Di sebuah tayangan YouTube, yang direkam dari ceramah beliau, HRS mengatakan bahwa  FPI bukan orang lain. FPI adalah anak NU yang bandel. Jika HRS sekarang cenderung ‘bersahabat’ dengan Islam puritan, saya merasa itu bentuk dari aliansi taktis untuk tujuan politis. Namanya aliansi taktis, suatu saat akan bubar, jika tujuan politisnya hilang atau bertolak belakang.

Sumber : FB M. Kholid Syeirazi

Read More
Ikut Saran Para Ulama, Muhaimin Pastikan  PKB Usung Gus Ipul Pada Pilkada Jatim 2018

Ikut Saran Para Ulama, Muhaimin Pastikan PKB Usung Gus Ipul Pada Pilkada Jatim 2018

KokopNews, Probolinggo: Dari Kediri, Ketua Umum PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) Muhaimin Iskandar langsung ke Probolinggo untuk bertemu dengan para kiai dari wilayah Tapal Kuda Jawa Timur yang meliputi Banyuwangi, Situbondo, Lumajang, JemberPasuruan dan Probolinggo.

Pertemuan berlangsung di Pesantren KH Zainul Hasan Genggong, Desa Genggong,  Kabupaten Probolinggo.

Ikut Saran Para Ulama, Muhaimin Pastikan  Usung Gus Ipul Pada Pilkada Jatim 2018
Ngopibareng.id
Sebagaimana di Kediri, di Probolinggo Muhaimin juga mencari masukan dan saran para kiai tentang calon yang akan diusung PKB dalam Pilkada Gubernur Jawa Timur tahun depan.

Pertemuan berlangsung santai penuh guyonan. KH Nawawi misalnya mengatakan pada pada Muhaimin, Pak Halim itu kan kakak sampeyan, sedang Gus Ipul adalah adik. Jadi sampeyan harus sayang pada adik, kata KH Nawawi yang membuat hadiri tergelak. "Para santri di Sidogiri juga banyak yang tanya, kiai dukung siapa? Ya saya jawab, saya dukung Gus Ipul," tambahnya.

Dihadiri sekitar 100 kiai, mereka sepakat mendukung Gus Ipul. "Kita semua  optimis akan menang dan mendongkrak perolehan suara PKB  kedepan," kata KH Mutawakkil.

Usai pertemuan, kepada wartawan Muhaimin menegaskan PKB akan mengusung Syaifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jatim, untuk maju sebagai Gubernur Jawa Timur periode 2018 - 2023 mendatang.

Muhaimin memastikan PKB akan mengusung satu nama dalam Pilgub Jatim tahun depan, yakni Syaifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul.

"Tadi dalam pertemuan informal sebelum pertemuan resmi saya sudah berusaha meyakinkan kepada para kiai agar Pak Halim jadi calon gubernur dari PKB. Sudah saya sampaikan dalam bermusyawarah termasuk argumentasi kenapa mengusung Pak Halim," katanya saat ditemui usai kegiatan.

“Namun para kiai ini tidak sepakat dengan usulan saya itu. Para kiai dengan suara aklamasi  kompak serta sepakat hanya mengusung satu nama yakni Syaifullah Yusuf sebagai cagub. Sebagai ketua umum DPP PKB , tentu saya akan taat, mendengarkan dan tunduk terhadap para ulama yang sangat kita muliakan ini, katanya.

Hadir dalam pertemuan itu antara lain KH Nawawiyah, KH Saiful Islam, KH Mutawakkil dan  KH Anwar.

“Saya akan berusaha kakak saya sendiri untuk menerima bahwa keputusan PKB adalah Syaifullah Yusuf. Saya juga akan yakinkan para DPC PKB yang tentu akan kaget atas keputusan ini. Saya mohon maaf kepada semua pendukung pak Halim. Terima kasih atas bantuan dan dukungannya selama ini. Saya pesan untuk pak Halim, saya sudah berusaha tapi belum berhasil ," katanya.

Malam ini, lanjutnya, aka nada pertemuan DPP PKB. Ia berharap tidak ada voting, dan semoga aspirasi dari para kiai ini bisa diterima. Muhaimin berjanji akan membawa dan memperjuangkan aspirasi ini untuk menjadi keputusan bersama bahwa PKB dan NU menjadi satu padu mengusung Gus Ipul menjadi gubernur.

"Mudah - mudahan tidak ada protes . Mudah - mudahan semuanya menjadi satu padu dan kompak mendukung Gus Ipul. PKB maju bersama Gus Ipul. Saya akan sampaikan beberapa argumentasi kenapa PKB pilih Gus Ipul dalam rapat DPP PKB nanti malam," katanya.

Soal wakil yang akan mendampingi Gus Ipul, Muhaimin mengaku belum dapat menentukannya sekarang. “Saya perlu berbicara dan duduk bersama dengan Gus Ipul dan Pak Halim, siapa yang kira-kira cocok untuk dijadikan pasangan duet dalam Pilkada Gubernur Jatim tahun depan,” tambahnya.

Sumber : Ngopibareng

Read More
Di Kediri, Para Kiai Minta PKB Usung Gus Ipul

Di Kediri, Para Kiai Minta PKB Usung Gus Ipul

KokopNews, Kediri: Hari Rabu (24/5) siang Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar berada di Pesantren Lirboyo, Kota Kediri. Pengasuk ponpes Lirboyo,  KH Anwar Manshur menyambut Muhaimin bersama lebih seratus kiai dari wilayah mataraman atau timur Jawa Timur.

Di Kediri, Para Kiai Minta PKB Usung Gus Ipul
Ngopibareng.id

Memakai baju patik sutera warna hijau, kedatangan Muhaimin ke Kediri memang untuk bertemu dengan para kiai guna membahas siapa calon yang akan diusung PKB pada Pilkada Gubernur Jatim tahun depan.

Kepada Ketua Umum PKB para kiai mengusulkan agar PKB mengusung Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul, yang saat ini menjadi Wakil Gubernur Jatim. 

KH. Anwar Iskandar, pengasuh Ponpes Al Amin, Ngasinan, menjadi juru bicara para kiai. Katanya, prestasi Gus Ipul dalam Pemerintahan Jawa Timur selama ini sudah cukup terbukti dan memiliki elektabilitas yang cukup tinggi.
 
Muhaimin Iskandar menjawab dirinya pasti  akan mengikuti usulan dan saran para kiai.  "Rekomendasi dari PKB untuk Syaifullah Yusuf akan segera dikeluarkan dalam waktu dekat. Kami berharap Pak Halim Iskandar mau menerimanya dan bersama-sama membantu PKB untuk memenangkan Gus Ipul," katanya


Sumber : Ngopibareng

Read More
Pesan Bijak Romo Frans Magnis Suseno Untuk Umat Kristiani "Sesudah Ahok Kalah"

Pesan Bijak Romo Frans Magnis Suseno Untuk Umat Kristiani "Sesudah Ahok Kalah"

KokopNews, SESUDAH AHOK KALAH

Oleh: Romo Frans Magnis Suseno SJ*

Akhirnya Ahok kalah. Di luar dugaan, ia kalah telak. Jelas, suatu mayoritas berarti dari penduduk Jakarta memilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno untuk menggantikan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Hasil pemilihan itu harus diterima.

Pesan Bijak Romo Frans Magnis Suseno Untuk Umat Kristiani "Sesudah Ahok Kalah"
Portal-islam.id

Kemenangan Anies-Sandi bukan malapetaka. Pertanyaan menentukan, apa mereka akan mampu menangani perkembangan Jakarta yang ruwet itu dengan baik, tidak saya masuki di sini.

Yang jelas–dan Anies sudah memperlihatkannya: Anies sangat berkepentingan untuk membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi Gubernur bagi semua penduduk Jakarta, bahwa ia tidak dikuasai oleh pihak-pihak ekstrem yang mendukungnya dengan begitu vocal dalam kampanye. Apalagi kalau umpamanya Anies mempunyai ambisi lebih tinggi lagi (sesuatu yang tentu tidak terlarang), ia akan harus membuktikan diri bahwa ia bisa diterima oleh semua. Jadi menurut saya, tidak perlu mengkhawatirkan suatu penggubernuran sektarian.

Lagi pula, belum tentu besarnya kemenangan Anies-Sandi semata-mata karena rebut-ribut agamis kelompok-kelompok yang selama enam bulan terakhir menguasai panggung perhatian publik di negara kita. Sangat mungkin bahwa juga warga yang tidak radikal/ekstremis pada saat terakhir merasa lebih aman memilih calon pemimpin yang seagama daripada orang “Tionghoa-Kristen”. Bahwa orang mengikuti nalurinya, itu adalah wajar dan juga tidak berarti permusuhan terhadap yang tidak mereka pilih.

Namun kalau itu betul, perlu instropeksi. Barangkali Ahok muncul seratus tahun terlalu cepat. Barangkali suatu bangsa, betapa pun di “mau” pluralis dan non-diskriminatif, secara psikologis belum mampu menerima bahwa posisi-posisi kunci diduduki orang dari agama minoritas. Amerika Serikat saja yang membanggakan diri dengan kebebasan beragama membutuhkan 160 tahun (!) sampai orang Katolik pertama (Katolik di Amerika Serikat minoritas 30 persen) dapat menjadi presiden! Waktu John F. Kennedy terpilih
pada tahun 1960, dari beberapa pihak Protestan masih ada reaksi histeris: Vatikan akan mengambil alih Amerika, gereja-gereja Protestan akan ditutup, dan sebagainya. Waktu Barack Obama mau menjadi presiden Amerika Serikat, bahkan prasangka-prasangka rasis muncul kembali. Tahun 2010, Presiden Jerman Christian Wulf mengakui adanya 4 juta orang Muslim, kebanyakan asal Turki, yang sudah puluhan tahun di Jerman, (atas pernyataan ini -red) ia disambut dengan protes keras.

Bagi kita, minoritas Kristiani, cukup bahwa kita “bisa” menjadi presiden, tak perlu kita “menang” menjadi presiden.

Secara psikologis, seorang presiden Katolik atau Protestan masih terlalu berat. Barangkali bahkan provokatif, bagi mayoritas warga, termasuk mereka yang bersahabat dengan kita. Kiranya bagi kita lebih menguntungkan kalau negara dipimpin oleh salah satu dari sekian tokoh Muslim yang Pancasilais, pluralis, terbuka. Cukup kalau kita mempunyai orang yang bisa menjadi menteri atau pembantu penting. Tidak perlu melemparkan tuduhan “tidak toleran”, “sektarian” kepada mereka yang merasa lebih aman kalau pimpinan tertinggi dipegang yang sesuai dengan agama mereka.

Dengan kemenangan Anies-Sandi, apa ketenangan akan kembali? Sayang, itu belum tentu. Bisa juga bahwa ribut-ribut Ahok hanyalah suatu warming-up. Bisa saja ada pemain-pemain yang sasarannya jauh lebih tinggi daripada Jakarta. Sudah dua kali seorang presiden diganti karena tekanan dari jalan: Soekarno tahun 1966 dan Soeharto tahun 1998. Bedanya, presiden kita sekarang terpilih secara demokratis oleh rakyat Indonesia. Tak ada kelompok-kelompok yang berhak menyingkirkannya. Tentu, kalau pengacauan kehidupan bangsa berlanjut, muncul pertanyaan di mana Angkatan Bersenjata kita akan berada.

Kita sendiri minoritas Kristiani, menurut pendapat saya, sebaiknya terus saja biasa-biasa. Sangat penting bahwa kita di semua level mengembangkan hubungan positif-saling percaya dengan umat Islam (dan umat Hindu di Bali). Situasi kita tidak pertama-tama tergantung dari konstelasi-konstelasi politik, melainkan dari apakah saudara-saudari beragama lain-mayoritas besar– merasa damai dan positif dengan kita.***

*Sumber: Tulisan Kolom Romo Frans Magnis Suseno di Majalah HIDUP edisi 14 Mei 2017.

NB: Majalah Hidup adalah sebuah majalah umat Katolik Indonesia. Majalah Hidup pertama dicetak pada tahun 1946 dan menggunakan bahasa Belanda. (wikipedia)

Read More
Tampilkan Artis Dangdut Rok Mini, Imtihan Madrasah di Kejayan Jadi Perbincangan

Tampilkan Artis Dangdut Rok Mini, Imtihan Madrasah di Kejayan Jadi Perbincangan

KokopNews, Kegiatan Imtihan atau haflah akhirussanah salah satu Madrasah di wilayah Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan mendadak menjadi viral dan perbincangan di berbagai platform media sosial sejak Minggu (21/5/2017) malam.

Tampilkan Artis Dangdut Rok Mini, Imtihan Madrasah di Kejayan Jadi Perbincangan
Hal ini terjadi lantaran beredar foto Haflah akhirussanah Madrasah yang ada di desa Sumber Banteng Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan tidak menampilkan kegiatan religi anak – anak madrasah pada umumnya melainkan justru menghadirkan artis dangdut yang tampil berpakaian mini dan bergoyang di atas panggung.

Dalam foto yang dibagikan oleh para netizen tersebut tampak seorang artis dengan baju berwarna biru sedang bergoyang bersama salah seorang pemuda bergamis di atas panggung dengan latar belakang papan bertuliskan Haflah Akhirussanah Madrasah Miftahul Ulum Yang ke… Sumber Banteng Krajan Kecamatan Kejayan. Selain itu, terlihat pula seorang kakek yang sedang menghitung uang berdiri di samping sang penyanyi.

“Imtihan apah agustuzen jiah bro” kata akun Facebook Imam Subawe

“Imtihan kok spt itu,! “kata akun Facebook Wiwin Alawiyah.

Akun FB Dwy Sadoellah dari Sidogiri menuliskan “Mengharukan” sambil mengupload kedua foto imtihan tersebut yang langsung dibanjiri beragam komentar dari pengikut dan teman – temannya.

Beredarnya foto itu pun sempat ditanggapi pula oleh Ketua PC Ma’arif Nahdlatul Ulama Kabupaten Pasuruan, KH. Mujib Imron atau Gus Mujib melalui akun WhatsApp-nya di sebuah grup internal lembaga PCNU Kab-Pas.

“Siang nanti (hari ini red), KKMD Kejayan, Ketua Yayasan, Kepala Madin dan Ketua Panitia Haflah Imtihan Madin tsb kami panggil/Tabayyun, ” tulis Gus Mujib.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis belum didapatkan konfirmasi dari pihak panitia pelaksana Haflah Akhirussanah terkait kegiatan menghadirkan artis dangdut rok mini tersebut. 

Sumber : Wartabromo

Read More
Keluarga Ahok Cabut Berkas Banding, Kenapa?

Keluarga Ahok Cabut Berkas Banding, Kenapa?

KokopNews, Kejaksaan belum bersikap atas pencabutan berkas banding Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok atas vonis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara yang menghukum 2 tahun penjara atas perkara penistaan agama.

Keluarga Ahok Cabut Berkas Banding
Kumparan.com
"Saya tidak mau komentar. Saya belum tahu (pencabutan banding)," kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (JAM Pidum) Noor Rachmad di Jakarta, Selasa.

Ia meminta wartawan untuk menunggu dahulu sikap Kejaksaan sebagai penuntut umum yang juga mengajukan banding atas vonis tersebut. Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Gubernur DKI Jakarta nonaktif, memastikan telah mencabut permohonan banding atas vonis dua tahun penjara Pengadilan Negeri Jakarta Utara dalam perkara penistaan agama.

Kuasa hukum Basuki Tjajaha Purnama atau Ahok, I Wayan Sudirta membenarkan pihak keluarga Ahok melalui istrinya Veronica Tan telah mencabut permohonan banding. "Informasi itu memang benar keluarganya mencabut permohonan banding," katanya.

Istri Ahok, Veronica Tan telah berbicara dengan tim kuasa hukumnya setelah melakukan pertimbangan dan pengkajian maka mencabut banding tersebut.

Menurut dia, keputusan itu pilihan terbaik dari yang terburuk yang akhirnya diambil oleh pihak keluarga, meski kecewa dan merasa tidak adil atas vonis majelis hakim.

Wayan menceritakan kronologis pencabutan itu. Pada Senin pukul 14.30 WIB, ia bersama tiga tim kuasa hukum mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara untuk memasukan memori banding.

Kemudian pukul 15.30 WIB, pihaknya baru diterima oleh petugas PN Jakarta Utara. Kemudian tidak lama datanglah keluarga dari Basuki Tjahaja Purnama dengan memberikan informasi pencabutan banding tersebut. "Alasan pencabutan itu secara resmi akan disampaikan pada Selasa (23/5) besok," katanya.

Sumber : Republika

Read More
Hindari Perpecahan  Di Tubuh NU Jelang Pilkada Jatim, Para Kiai NU Surati Ketua DPW PKB Abdul Halim Iskandar

Hindari Perpecahan Di Tubuh NU Jelang Pilkada Jatim, Para Kiai NU Surati Ketua DPW PKB Abdul Halim Iskandar

KokopNews, Sejak hari Minggu (20/5) siang beredar bocoran surat pernyataan yang ditandatngani 21 kiai NU. Dalam surat pernyataan yang ditujukan kepada Ketua DPW PKB Jawa Timur Abdul Halim Iskandar antara lain disebutkan agar PKB mau belajar dari pengalaman Pemilukada sebelumnya yang tidak kompak. Surat bertanggal 19 Mmei 2017 ini ditandatangani 21 kiai.

  • Hindari Perpecahan  Di Tubuh NU Jelang Pilkada Jatim, Para Kiai NU Surati Ketua DPW PKB Abdul Halim Iskandar
  • Ngopibareng.id
Juga disebutkan agar  PKB bersedia menjelaskan rencana pencalonan gubernur Jatim yang akan berlaga dalam pilgub 2018. Para kiai akan bersyukur bila PKB bersedia menjadikan para kiai dan pengasuh pondok pesantren sebagai rujukan utama dalam menentukan figur calon gubernur yang akan diusung bersama.

Wakil Rois Aam PBNU KH Miftachul Akhyar membenarkan surat adanya surat pernyataan para kiai sepuh NU itu. "Surat itu benar adanya. Kami ingin NU bersatu dalam pilkada Jatim. Sudah saatnya NU memiliki Gubernur Jatim. Afwan," kata Pengasuh Ponpes Miftahussunah ini.

KH Anwar Iskandar, pengasuh Pondok Pesantren Al Amien, Ngasinan, Kedirisebagai salah satu penandatangan surat pernyataan juga membenarkan adanya surat itu. “Surat itu sifatnya imbauan kepada Ketua DPW PKB Abdul Halim Iskandar, agar di Pilgub Jatim 2018 nanti, keputusan yang diambil sejalan dengan pemikiran para kiai,” katanya. (nis)

Berikut kami muat selengkapnya surat para kiai kepada Ketua DPW PKB Jatim.

Kepada yth
Sdr Abdul Halim Iskandar
Ketua DPW PKB Jatim

Di Tempat

Assalamu alaikum wr wb

Dengan berharap ridla dari Allah SWT, setelah melalui musyawarah kami para kiai dan pengasuh Ponpes yang bertanda tangan di bawah ini, ingin menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

1. Belajar dari pengalaman Pemilukada serentak beberapa tahun terakhir ini, diperlukan kebersamaan dan kekompakan demi kemaslahatan ummat. Para pendiri NU bisa begitu kuat dalam menghadapi cobaan dan tantangan di masa lalu karena kekompakan dan kebersamaan itu. Selain karena ikhtiar, ilmu, dan doa sebagai senjata utama.

2. Mengikuti tradisi para pendiri NU, kiai dan pengasuh ponpes selalu menjadi rujukan utama dalam proses pengambilan keputusan organisasi maupun politik. Setidaknya dilibatkan dalam7 musyawarah dalam pengambilan keputusan tersebut sehingga betul-betul membawa aspirasi NU maupun masyarakat luas.

3. Keterlibatan para kiai tersebut sangat penting untuk menjaga keutuhan NU, khususnya terkait dengan pemilukada Jatim mendatang. Para kiai dan pengasuh pondok pesantren tidak ingin pengalaman pemilukada yang lalu terulang karena tidak adanya kekompakan dan kebersamaan dalam perjuangan politik, saling ingin menang sendiri, sehingga mengakibatkan perpecahan di lingkungan NU yang butuh waktu panjang untuk menyatukannya kembali.

4. Sebagai tempat kelahiran NU dan basis utama Nahdliyin, saatnya Jawa Timur memberikan contoh kepada daerah lain tentang kebersamaan, kekompakan, dan keutuhan dalam setiap perjuangan. Semua itu demi kesejahteraan warga Nahdliyin dan warga masyarakat pada umumnya.

5. Sebagai partai yang didirikan para kiai dan NU, kami berharap PKB bersedia menjelaskan rencana pencalonan gubernur Jatim yang akan berlaga dalam pilgub 2018. Sungguh kami akan sangat bersyukur bila PKB bersedia menjadikan para kiai dan pengasuh pondok pesantren sebagai rujukan utama dalam menentukan figur calon gubernur yang akan diusung bersama.

6. Demikian atas perhatiannya, kami ucapkan banyak terima kasih.

Surabaya, 19 Mei 2017

Yang bertanda tangan :

1. KH ZAINUDDIN JAZULI (PP Al Falah Ploso Mojo Kediri)

2. KH ANWAR MANSYUR (PP Lirboyo Kediri)

3. KH NURUL HUDA JAZULI (PP Ploso Mojo Kediri)

4. KH MIFTAHUL AKHYAR (PP Miftahussunnah Surabaya)

5. KH NAWAWI ABDUL DJALIL (PP Sidogiri Pasuruan)

6. KH AGUS ALI MASYHURI (PP Bumi Sholawat Lebo Sidoarjo)

7. KH ANWAR ISKANDAR (PP Al Amien Ngasinan Kediri)

8. KH MUTAWAKKIL ALALLAH (PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo)

9. KH FUAD NUR HASAN (PP Sidogiri Pasuruan)

10. KH FUAD JAZULI (PP Ploso Mojo Kediri)

11. KH KHOLIL AS'AD SYAMSUL ARIFIN (PP Walisongo Situbondo)

12. KH IDRIS HAMID (PP Salafiyah Syafiiyah Pasuruan)

13. KH ABDULLAH KAFABIHI MAKHRUS (PP Lirboyo Kediri)

14. KH UBAIDILLAH FAQIH (PP Langitan Lamongan)

15. KH SYAFIUDIN WAHID (PP Darul Ulum Garsempal Sampang)

16. KH JA'FAR YUSUF (PP Darul Ulum Garsempal Sampang)

17. KH MAKHRUS (PP Al Ihsan Jrengoan Sampang)

18. KH NURUDDIN ABDURRAHMAN (PP Al Hikam Bangkalan)

19. KH MUDDASIR BADRUDDIN (Pamekasan)

20. KH MUJIB IMRON (PP Al Yasini Areng-areng Pasuruan)

21. KH FAKHRI ASCHAL (PP Saychona Cholil Bangkalan).


Sumber : Ngopibareng
Read More
Lewat Penjual Air Keras, Polisi Bisa Ungkap Peneror Novel Baswedan

Lewat Penjual Air Keras, Polisi Bisa Ungkap Peneror Novel Baswedan

KokopNews, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengungkap kasus teror penyiraman air keras yang menimpa penyidik Novel Baswedan.

Lewat Penjual Air Keras, Polisi Bisa Ungkap Peneror Novel Baswedan
Aktual.com
Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang mengatakan, dalam koordinasi kedepan, pihaknya dengan Korps Bhayangkara akan memfokuskan cara-cara baru dalam mengungka‎p kasus ini. Cara baru tersebut yakni dengan menyisir penjual air keras.
“Kalau selama ini kan kita fokus pada video, bagaimana kalau sekarang kita fokus pada toko kimia, karena banyak cara, itu (pelaku) emang ngambil air keras darimana?. Dari laut?, pasti enggak kan,” kata Saut di kawasan Sudirman, Jakarta, Minggu (21/5).
Terkait dengan pembentukan tim independen pencari fakta‎ atau tim gabungan KPK-Polri untuk mengungkap kasus Novel, Saut enggan menanggapi lebih jauh. Menurut Saut, wewenang KPK hanya melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian.
“Tim kan sudah ada, kita tinggal koordinasi saja. Di Polda kan juga ada tim. Penyidik kita juga sudah memberikan potongan-potongan informasi, ” jelasnya.
Menurutnya, untuk dapat mengungkap Novel Baswedan, pihak kepolisian memang perlu mendapatkan dukungan dari publik dalam bentuk pemberian informasi atau yang lainnya. “Jadi memang bukan hanya KPK, semua juga bisa dong memberi informasi,” tandasnya.
Sumber : Aktual

Read More
MUI Duga Akan Pihak yang Menunggangi Aksi Bakar Lilin Untuk Ahok

MUI Duga Akan Pihak yang Menunggangi Aksi Bakar Lilin Untuk Ahok

KokopNews, Sekretaris Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Fahmi Salim, menduga ada pihak yang menunggangi aksi bakar lilin yang dilakukan massa pendukung terpidana kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Menurut dia, aksi tersebut juga berdampak pada separatisme dan makar di sejumlah daerah di Indonesia.

MUI Duga Akan Pihak yang Menunggangi Aksi Bakar Lilin Untuk Ahok
“Kita cukup menyayangkan aksi seperti itu (bakar lilin). Kan semua sudah sepakat untuk menghormati keputusan sidang, lalu sebagian mereka itu terang-terangan mendeklarasikan untuk memisahkan diri dari NKRI (Gerakan Minahasa Merdeka), kan bahaya,” kata Fahmi di Jakarta, rabu (17/5).
Fahmi mengatakan, aksi tersebut telah mematahkan tuduhan makar dan antikebinekaan yang selama ini disematkan pada aksi umat Islam atau bela Islam. Karena nyatanya, ungkap dia, para pendukung Ahok lah yang terang-terangan mendeklarasikan untuk memisahkan diri dari NKRI.
“Sudah intervensi itu. Mereka layak disebut untuk pengkhianat bangsa. Apalagi, mereka meminta bantuan internasional untuk menganulir keputusan sidang,” kata Fahmi menegaskan.
Fahmi memaparkan, aksi bakar lilin bukanlah budaya yang diambil dari Islam ataupun nusantara. Dia meminta agar semua pihak bisa tenang agar tidak menimbulkan keributan di masyarakat.
Dia pun berharap, semua pihak dapat kembali pada kiprahnya masing-masing. Fokus membangun bangsa Indonesia untuk lebih baik, dan jangan pernah lagi terjebak pada jargon-jargon yang menyebut ‘jika tidak membela Ahok berarti tidak adil, tidak Pancasila’. Karena jargon tersebut menyesatkan dan harus segera diluruskan.
Pernyataan ini berkaitan dengan pendukung Ahok di Minahasa, yang membuat Gerakan Minahasa Merdeka. Dalam aksinya itu, mereka ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini mereka lakukan karena tidak puas dengan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara, atas vonis yang dijatuhkan terhadap Ahok dengan hukuman penjara selama dua tahun.

Sumber : Aktual

Read More
ICMI : Penangguhan Penahanan Ahok Diterima, Kepastian Hukum Rusak

ICMI : Penangguhan Penahanan Ahok Diterima, Kepastian Hukum Rusak

KokopNews, Dewan Pakar ICMI Anton Tabah Digdoyo mengatakan, pemerintah harus memperlakukan terpidana kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sama dengan terpidana lain. Anton menegaskan penangguhan tidak bisa dilakukan jika vonis dibacakan.
ICMI : Penangguhan Penahanan Ahok Diterima, Kepastian Hukum Rusak
Rol
"Ahok harus diperlakukn sama dengan yang lain, karena amanah UU seperti itu semua orang sama di muka hukum," kata Anton kepada Republika.co.id, Jumat, (12/5).

Mantan Kapolwiltabes Yogyakarta yang pernah menangani kasus penodaan agama dengan tersangka Permadi ini mengatakan. "Vonis hakim dua tahun penjara dan memerintahkan Ahok langsung ditahan maka amar vonis tersebut wajib ditaati," ujarnya.

Anton mengatakan, yang bisa ditangguhkan hanya penahanan ketika dalam proses penyidikan dan proses penuntutan, sedangkn setelah vonis hakim, maka tidak ada penangguhan.

"Pengalaman saya sebagai penyidik 34 tahum jadi polisi juga sahabat-sahabat saya yang di polisi, jaksa dan hakim semua bilang begitu tak pernah ada yang sudah divonis hakim dutangguhkan penahanannya," jelasnya.

Anton melanjutkan, seorang tahanan yang sudah mendapat vonis hakim boleh keluar tahanan jika ada alasan sangat khusus, seperti misalnya untuk berobat ke dokter.  

Pria yang juga pernah menjabat sebagai Sespri Presiden Soeharto itu melanjutkan, upaya hukum bagi terpidana hanya bisa diubah oleh putusan peradilan yang lebih tinggi.

"Yaitu banding, kasasi atau peninjauan kembali dan ketika terpidana melakukan upaya hukum tersebuy tetap dalam tahanan tidak boleh ditangguhkan, krn memang tidak ada penangguhan pasca vonis hakim," katanya.

Untuk itu, ia menambahkan pemerintah wajib menjadi contoh dalam segala hal yang berkaitan dengan taat hukum, jangan sampai malah merusaknya. 

"Jika penahanan ahok pasca vonis hakim ditangguhkan maka pemerintah telah merusak kepastian hukum dan terkesan pemerintah semau gue sakarepe dewe dan ojo dumeh," katanya.

Sumber : ROL

Read More
Terbongkar ! Cak Nun Ungkap Siapa Ahok Sebenarnya

Terbongkar ! Cak Nun Ungkap Siapa Ahok Sebenarnya

KokopNews, Budayawan Emha Ainun Najib alias Cak Nun kembali bersuara tegas dan lantang terkait Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Cak Nun tanpa takut menyampaikan siapa sebenarnya Ahok dan peranannya dalam berbagai proyek menghancurkan bangsa Indonesia, terutama umat Islam.

Terbongkar ! Cak Nun Ungkap Siapa Ahok Sebenarnya
Captur Youtube
Cak Nun menyatakan, umat Islam sebagai penduduk mayoritas dijadikan sasaran dan harus dipecah belah. Caranya dengan menggunakan berbagai macam proyek di berbagai bidang kehidupan.

Sayangnya, banyak kaum Muslimin yang tidak memahami garis besar permainan musuh-musuh Islam yang berkedok kebangsaan ini.

"Tidak semua pimpinan umat Islam mengerti gambar besar ini," ujar Cak Nun tegas.

Banyak umat Islam yang mengira bahwa kegaduhan yang terjadi hanya urusan Ahok. Padahal, ada hal lebih besar yang terjadi di balik Ahok.

"Dipikirnya soal Ahok. Lah opo loh Ahok diurusi?" tandasnya.

Buat apa mengurusi Ahok? Tanya Cak Nun, retoris. 

"Bukan Ahoknya, tetapi Ahok adalah korlap (koordinator lapangan) dari proyek-proyek." lanjut Cak Nun, blak-blakan.

Menurutnya, banyak pengembang yang akan menanggung kerugian dahsyat jika Ahok tidak terpilih menjadi Gubernur.

"Kalau Ahok tidak sampai jadi Gubernur, berapa ratus triliun yang tidak bisa diterapkan?" jelasnya.

Ratusan triliun yang sudah digunakan untuk berbagai proses pengerjaan proyek, mulai dari pembelian bahan baku dan lain sebagainya akan mangkrak jika Ahok kalah dalam Pilkada DKI Jakarta.

Sehingga para pengembang harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memenangkan Ahok demi lancarnya proyek-proyek mereka menggerogoti negeri ini. [Om Pir/Tarbawia]


Read More
Pengikut  Habib Rizieq Shihab

Pengikut Habib Rizieq Shihab


Oleh: Moh Mahfud MD

Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN)
Ketua MK (2008-2013)
                                      
KETIKA awal pekan lalu (25/4/2017), melalui program talkshow di sebuah televisi berita, saya mengatakan bahwa pengikut Habib Rizieq tidak banyak, muncullah banyak tanggapan melalui media sosial. Meski banyak yang menanggapi positif dan menyatakan sependapat, ada juga yang tidak sependapat dengan pernyataan saya itu.

Pengikut  Habib Rizieq Shihab
Detik.com
Yang tidak setuju dengan pendapat saya mengatakan, ratusan ribu bahkan jutaan orang yang datang mengikuti aksi damai di Jakarta pada Aksi Damai 411 dan 212 adalah fakta bahwa pengikut Habib Rizieq sangat banyak.

Tapi bagi saya sendiri jutaan orang yang ikut Aksi 411 dan 212 bukanlah pengikut Habib Rizieq, melainkan orang-orang yang “menumpang” untuk ikut melakukan protes. Bahkan saya meyakini, pada umumnya pengikut kedua aksi itu adalah warga NU dan Muhammadiyah.

Bagi saya, tidak mungkin massa sebanyak itu bisa terkumpul jika bukan dari warga Muhammadiyah dan NU. Saya kenal dengan begitu banyak orang NU dan Muhammadiyah yang ikut aktif menggalang aksi itu, bahkan nama dan foto-fotonya terpampang di media massa.

Ada yang menyanggah: bukankah PBNU dan PP Muhammadiyah sudah jelas menyatakan tidak ikut ambil bagian dalam aksi-aksi itu? Saya pun menanyakan juga kepada sebagian dari peserta aksi itu dan mereka menjawab, meskipun dirinya orang NU atau Muhammadiyah, mereka ikut aksi bukan sebagai warga Muhammadiyah atau NU.

Mereka ikut aksi itu dengan memakai baju sebagai anggota organisasi lain seperti anggota majelis taklim, anggota kelompok arisan, anggota keluarga alumni satu sekolah, pengurus-pengurus yayasan, bahkan sebagai muslim perseorangan.

Bahkan saya juga mendapat banyak kiriman swafoto dari kolega-kolega, bekas mahasiswa, keluarga, dan kenalan-kenalan saya yang bekerja di kantor-kantor pemerintah maupun swasta dari seluruh Indonesia seperti jaksa, hakim, dokter, dan artis yang diambil dari arena Aksi 411 dan 212. Mereka memakai baju koko atau hijab putih dan berswafotoria dengan latar belakang Masjid Istiqlal dan Monumen Nasional (Monas). 

Menurut saya mereka mengikuti aksi-aksi itu bukan karena mengikuti Habib Rizieq, melainkan ikut menumpang untuk melakukan protes atas ketidakadilan sosial dan lemahnya penegakan hukum yang terus terjadi selama era Reformasi. Mereka terpaksa ikut menumpang karena, maaf, organisasi resminya, NU dan Muhammadiyah, lebih banyak melakukan amar makruf dan kurang melakukan nahi munkar.

PBNU dan PP Muhammadiyah, karena posisinya yang harus hati-hati, memang lebih banyak menyampaikan amar makruf (memberi petuah dan imbauan-imbauan untuk kebaikan) daripada melakukan nahi munkar (mencegah, memprotes, dan bersikap tegas atas kemungkaran.

Nah, orang-orang yang mencari saluran untuk melakukan protes dan “nahi munkar” itulah yang ikut kegiatan insidental (bukan sebagai peserta tetap) aksi-aksi yang digalang Habib Rizieq. Ada yang mengatakan, ibarat merawat tanaman, PBNU dan Muhammadiyah yang giat menyiram agar subur, tetapi Habib Rizieq yang membasmi hamanya.

Jadi jika hanya melihat aksi Superdamai 411 dan 212 saya tidak melihat adanya ancaman serius dari gerakan radikalisme atau intoleransi. Peserta Aksi 411 dan 212 itu tidak bertujuan melawan ideologi negara Pancasila dan NKRI dan bukan ingin memusuhi orang yang berbeda ikatan primordial, melainkan hanya menumpang protes.

Setelah itu mereka pulang, kembali ke rumah NU dan Muhammadiyah masing-masing dan tidak punya ikatan melembaga dengan Habib Rizieq, apalagi dengan FPI.

Ini berbeda dengan pengumpulan massa dalam istigasah NU yang dirakit dalam hubungan batin mendalam. Contohnya, tanpa ramai-ramai di medsos atau publikasi yang hiruk-pikuk dan hanya melalui pesan dari mulut ke mulut, istigasah NU Jawa Timur beberapa waktu yang lalu berhasil menyedot ratusan ribu umat yang berdoa untuk bangsa dan NKRI dengan tangis khusyuk.

Kalau begitu, apakah ada gerakan radikalisme dan intoleransi di Indonesia? Jika itu yang ditanyakan, jawabannya “tentu ada”. Terutama dalam primordialisme agama, pada agama apa pun, bibit-bibit radikalisme pasti ada.

Mereka ingin membongkar secara radikal sistem yang sudah disepakati sambil melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan intoleran. Namun jumlah mereka ini sangat sedikit, hanya percikan kecil dari mainstream, dan selalu mudah dideteksi serta diatasi karena bukan hanya ditangani aparat negara, tetapi juga dilawan oleh rakyat.

Banyak orang yang (terjebak) ikut aksi insidental kaum radikal dan intoleran karena kaum radikal dan intoleran yang sedikit itu menggunakan isu ketidakadilan, kesenjangan sosial ekonomi, merajalelanya korupsi, dan kemiskinan untuk melakukan aksi-aksi protes.

Kaum radikal dan intoleran sekarang ini sudah terdeteksi juga masuk ke sekolah-sekolah untuk memengaruhi generasi muda, tetapi pintu masuk rayuannya bukanlah ideologi, melainkan isu ketidakadilan dan kemiskinan. Mereka yang ikut melakukan protes itu sebenarnya tidak radikal dan tidak intoleran, pokoknya hanya menumpang protes. 

Dengan demikian jika kita benar-benar ingin menyelamatkan NKRI yang terbangun megah di atas fondasi Pancasila, kita harus menunjukkan kepada rakyat bahwa kita benar-benar berusaha menegakkan keadilan, berusaha membangun kesejahteraan rakyat sesuai dengan perintah konstitusi, dan melakukan perang total terhadap korupsi. Itu saja yang harus dilakukan jika tugas-tugas pemerintahan ingin agak ringan dan mendapat dukungan rakyat.

Buktinya, setiap ada pengungkapan dan tindakan tegas terhadap koruptor, rakyat serempak mendukungnya dengan menggelegar. Buktinya lagi, setiap pemerintah membuat kebijakan prorakyat alias populis, rakyat gemuruh menyambutnya dengan sukacita.

Bagi umat Islam sendiri, melalui telaah mendalam dan perjuangan panjang yang kemudian menjadi produk ijtihad para ulama NU, Muhammadiyah, dan ormas-ormas lain, NKRI yang berdasar Pancasila sudah final dan harus dipertahankan berapa pun biayanya. Pancasila itu ibarat akta kelahiran bagi Indonesia sehingga tidak bisa diganti selama kita ber-Indonesia.

Sumber : Sindonews


Read More