F
Ramadan Adalah Momen Tapat Untuk Taubat

Ramadan Adalah Momen Tapat Untuk Taubat

KokopNews- Bulan ramadan sebentar lagi meninggalkan kita. Bulan yang penuh ampunan ini akan membuat kita menyesal kalau tidak dimanfaatkan dengan baik. Puasa, tarawih, baca al-Quran dan memperbanyak amalan sunnah adalah amalan yang mestinya dilakukan di bulan penuh rahmat ini. 

Ramadan Adalah Momen Tapat Untuk Taubat

Tidak hanya itu, bulan ramadan adalah bulan latihan menahan diri dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Menfitnah, menggunjing, membicarakan aib orang lain, membiarkan nafsu bebas melakukan kehendaknya mesti dihindari pada bulan yang hanya sekali dalam setahun ini. 

Maka, apabila sebelumnya kita selalu melakukan hal-hal yang melanggar syariat dengan cara meninggalkan kewajiban atau melanggar larangan agama,  pada bulan inilah kesempatan kita untuk kembali pada jalan yang benar. 

Jika pada bulan ramadan ini kita bisa memperbanyak amalan ibadah maka besar kemungkinan pada bulan-bulan setelahnya kita relatif menjadi orang baik. 

Menjadi orang baik tentu menjadi harapan semua manusia tak terkecuali orang yang terlanjur masuk ke dalam lembah kemaksiatan. Pada dasarnya mereka yang berlumur dosa tidak mempunyai ketengan batin. Ingin rasanya mereka kembali pada fitrah kemanusiaannya. Hanya saja karena mereka sudah terlalu jauh masuk pada lembah kemaksiatan itu maka mereka bingung bagaimana cara kembali pada jalan kebenaran.

Nah, bagi orang yang dalam hidupnya banyak melakukan dosa sebaiknya mulai saat ini berhenti. Mulailah meninggalkan kemaksiatan yang membuatnya jauh dari Allah. Tidak ada untungnya jadi orang tidak baik. Di dunia dia hanya menjadi orang yang tidak tentram apalagi nanti di akhirat, keadaannya jauh lebih sengsara dibanding dengan kehidupan di dunia. 

Momen ramadan ini adalah kesempatan bagi umat islam untuk berlomba dalam kebaikan. Bagi yang sudah baik selayaknya membuat pribadinya semakin baik. sedangkan bagi yang belum baik seharusnya memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya.

Perbuatan dosa yang sudah sering dilakukan tentu tidak mudah untuk ditinggalkan. Apalagi hanya dalam waktu satu bulan. Namun kalau ada kemauan kuat disertai dengan aksi nyata bertaubat pada Allah sebesar apapun dosa yang dilakukan pasti akan diampuni oleh Allah. 

Yang terpenting bagi kita bukan banyaknya dosa yang dilakukan akan tetapi keinginan memulai menjadi orang baik inilah yang sangat penting. Dalam menerima taubat Allah SWT tidak melihat besar kecilnya dosa yang dilakukan seorang hamba. Sebesar apapun dosa yang sudah diperbuat dengan kehendaknya bisa saja Allah mengampuni. Tidak ada yang sulit bagi Allah karena Ia adalah tuhan segala alam.

Yang harus dilakukan pertama kali oleh mereka yang ingin kembali kepada Allah adalah dengan cara menyesali semua perbuatan nista yang pernah dilakukan. Kewajiban ibadah yang pernah ditinggalkan dibayar sedikit demi sedikit. Bagitu pula dosa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain ditunaikan. Seperti misalnya dia pernah merampok harta orang lain. Maka harta yang pernah dirampok tersebut dikembalikan pada pemiliknya. 

Untuk lebih jelasnya berikut ini akan saya paparkan tatacara bertaubat pada Allah SWT. Pertama syarat taubat adalah menyesali dosa yang diperbuat disertai dengan komitmen untuk tidak mengulanginya lagi. Menyesal ini tidak cukup hanya dimulut saja akan tetapi harus tulus dari hati ingin betul-betul kembali pada Allah. 

Kedua, jika dosa yang pernah diperbuat ada hubungannya dengan hak orang lain, maka hak tersebutr harus dikembalikan pada yang bersangkutan. Semisal pernah mengambil harta orang lain maka harta tersebut dikembalikan pada pemiliknya. Jika pemiliknya tidak diketahui maka hak tersebut diserahkan pada orang adil untuk disalutrkan pada kemaslahatan orang islam seperti masjid, madrasah, pesantren dan lain-lain.

Taubat sebenarnya tidak mengenal waktu, kapan saja boleh melakukan taubat. Namun jika sebelumnya tidak mempunyai kesempatan bertaubat maka pada  bulan ramadan ini adalah kesempatann yang tepat untuk melakukannya. Jika bulan ramadan ini tidak digunakan dengfan sebaik-baiknya maka akan tambah sulit nanti kalau bulann ramadan sudah selesai. 

Dosa adalah perbuatan hina. Jika terus dipupuk maka akan membuat kita semakin sulit kembali pada jalan yang benar. Taubat dari dosa adalah hidayah dari Allah. Tapi kita tidak tahu siapa saja yang mendapat hidayah dari Allah. Oleh karenanya, hidayah itu harus kita jemput. Memang ada sebaian kejadian dimana ada orang kembali ke jalan yang benar melalui cara yang tidak disengaja. Akan tetapi yang seperti itu jarang adanya. Untuk bertaubat jangan nunggu hidayah dari Allah karena hidayah itu tidak tampak dan tidak ada yang tahu kecuali sang pemberi hidayah itu sendiri.

Sebagai makhluk yang banyak kekurangan kita harus mencari hidayah itu dengan cara melatih diri menerima kebenaran dan berusaha mempraktekkannya. Berusaha mencari, menerima dan mengamalkan kebenaran ini adalah tanda bahwa kita mendekati hidayah Allah. 

Oleh karenanya, mari kita manfaatkan bulan ramadan ini dengan sebaik-baiknya. Caranya adalah memperbanyak amal baik seperti shalat sunnah, menyantuni orang fakir-miskin, meninggalkan kebiasaan nmemfitnah, menggunjing, membicarakan aib orang dan lain-lain. Dengan begitu maka kita termasuk orang yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang baik yang berhak atas surgaNya kelak di akhirat. Amin.
Read More
Dalam Belajar Menulis Fokuslah Pada 10 Menit pertama Dan Lihat Hasilnya

Dalam Belajar Menulis Fokuslah Pada 10 Menit pertama Dan Lihat Hasilnya

KokopNews- Hal pertama yang harus dimiliki oleh orang yang mau menulis adalah ide. Tanpa ide niscaya tidak ada yang mau ditulis. Namun banyak dari penulis pemula yang kesulitan menulis walaupun sudah ada ide yang mau ditulis karena ide yang tersedia tidak bisa dikembangkan. Bagaimana cara menangani masalah ini? Berikut tipsnya.

Dalam Belajar Menulis Fokuslah Pada 10 Menit pertama Dan Lihat Hasilnya
https://pixabay.com/

Sebagian besar orang yang mau menulis tidak jadi menulis karena kesulitan mengembangkan ide yang telah didapatkannya untuk menjadi paragraf. Jikapun telah mampu menyelesaikan satu paragraf misalnya, mereka masih kesulitan menambahkan paragraf lagi dan seterusnya. Kalau sudah seperti ini biasanya mereka, utamanya penulis pemula berhenti menulis. Dengan begitu mereka biasanya mencari informasi bagaimana caranya menghadapai prblem sulitnya mengembangkan ide.

Tapi banyak pula yang langsung menyerah dan tidak melanjutkan pekerjaan menulisnya. Semoga saja kita tidak masuk pada bagian terakhir ini.

Kesulitan mengembangkan ide sejatinya dialami oleh sebagian besar penulis termasuk yang sudah mahir sekalipun. Coba anda search di Google tentang pengalaman para penulis yang sudah mapan. Tidak sedikit dari mereka yang seringkali mengalami yang namanya otak blank. Sehingga aktivitas menulis terhenti.  Oleh karenanya bagi penulis pemula tidak usah berkecil hati. 

Berhenti menulis gara-gara kesulitan mengembangkan ide sungguh pilihan yang tidak baik. Bukan hanya akan menghancurkan keinginannya untuk bisa menulis tapi juga dianggap sebagai orang yang tidak tahan banting atau tidak tahan tantangan. Padahal mental tahan banting ketika menghadapi tantangan ini merupakan bumbu yang menghiasi kesuksesan seseorang, tak terkecuali dalam dunia kepenulisan.

Tidak jauh dengan yang kedua ini adalah yang pertama. Mereka yang mengalihkan perhatiannya dari menulis pada kesibkan lain, misalnya mencari tips dan triks mengembangkan ide, juga tidak kalah buruknya dengan yang kedua. Hal ini bukan karena mencari informasi itu salah akan tetapi waktu dan momennya tidak tepat. 

Sekali-kali memang kita harus mencari motivasi agar mood menulis kita tetap terjaga, seperti meminta ceramah pada mbah Google. Tapi kalau mencari informasi itu dilakukan pada saat kita menulis ini sungguh tindakan yang tidak benar.

Pada saat menulis seharusnya perhatian difokuskan pada apa yang mau ditulis. Ikuti saja apa yang difatwakan oleh isi kepalanya. Pikiran-pikiran yang sekiranya dapat mengganggu konsentrasi menulis dibuang jauh-jauh, termasuk perasaan : tulisan saya buruk, saya tidak tahu yang mau melanjutkan ide awal, tidak tau menempatkan tanda baca yang benar dan lain sebagainya. Pikiran-pikiran seperti ini akan mengganggu kita yang sedang menulis. Makanya harus dibuang.  

Perlu ditekankan disini dalam proses memulai menulis tidak boleh ada pikiran pengganggu. Jikapun pikiran itu muncul tidak usah digubris. Memang tidak mudah membuang pikiran yang sudah menguasai kita. Tapi kalau dibiarkan terus menggrogoti seperti itu malah akan membuat kita kalah dan pada akhirnya berhenti menulis. Dan ini tentu tidak kita inginkan.

Pikiran yang akan mengganggu proses menulis wajar adanya. Sebagaimana tersebut diatas, siapapun para penulis pasti mengahdapi itu. Yang tidak wajar itu apabila kita sedang menulis tapi berhenti ditengah jalan gara-gara didatangi makhluk halus yang berupa bisikan pengahambat menulis.Karena pikiranseperti itu wajar maka kita anggap santai saja.

Pikiran pengganggu tersebut muncul sejatinya hanya ingin menguji kesetiaan kita pada menulis. Dia tahu ketika kita memutuskan menulis bahwa menulis itu adalah cara menyampaikan gagasan, berbagi informasi pada orang lain. Pikiran penggangu itu ingin menguji kita sejauh mana komitmen menulis yang kita miliki. Maka hadirlah dia melalui pikiran-pikiran yang melintas disaat kita memulai menulis. 

Ini harus kita pahami betul karena sampai kapanpun dia tidak capek=capeknya menghampiri.  Untuk tahap pemula tentu gangguan ini masih relatif klecil, hanya mungkin karena pemula itu belum terbiasa atas bisikan ini sehingga digoda sedikit saja sudah nyerah. Berbeda dengan penulis mahir. Mereka sudah terbiasa dengan penyakit yang akan menggagalkan usaha menulisnya. jadi walaupun godaannnya relatif lebih besar dibandingkan pemula, para penulis  mahir itu tidak menghiraukannya. 

Jangan dikira penulis handal itu sudah tidak punya hambatan. Jangan salah. Justru hambatan yang mereka hadapi lebih besar. Kalau pemula seperti kita mungkin hambatannya tidak ada ide, sulit mengembangkan ide yang sudah ada, tidak tahu menempatkan tanda baca yang tepat dan hambatan-hambatan kece lainnya. Jauh lebih dahsyat dari itu adalah godaan yang menghampiri mereka, penulis yang sudah berpengalaman. Kesibuka, bosan, te[puruk dalam karir menulisnya adalah sebagian kecil godaan yang menimpa penulis handal.

Kalau kita menyadari itu bahwa menulis tidak mungkin lepas dari gangguan atau bisikan yang akan menggagalkan usaha menulis yang kita lakukan maka seharusnya ketika kita memulai menulis fokuslah pada apa yang mau ditulis. Dalam menulis ini kita sedangkan mengungkapkan apa yang menjadi isi kepala, mulai dari uneg-uneg, gagasan, rasa senang atau sedih, marah, benci atau ingin menceritakan sesuatu yang lucu dan lain sebagainya. 

Karena hanya ingin mengelurkan isi kepala maka tidaklah baik jika kita menghiraukan suara-suara sumbang yang bukan berasal dari isi kepala kita yang asli. Ingat, walaupun pikiran-pikiran pengganggu tersebut muncul dari otak, sebagaimana ide yang menjadi bahan tulisan, sejatinya dia adalah orang lain, bukan penduduk asli otak kita. Yang asli penduduk otak kita adalah gagsan atau apapun yang hendak kita tulis itu. 

Jadi, jika dalam menulis ada gangguan seperti tersebut diatas buang saja. Teruslah konsentrasi pada yang mau ditulis. Walaupun tulisan yang sedang dibuat jeleknya tidak ada padanannya juga tidak perlu disesali. Yang terpenting bukan bagus tidaknya tulisan yang sedang dibuat. Akan tetapi tercurahnya semua isi kepala itulah yang menjadi inti.

Kadnag isi kepala yang meenumpuk dan tidak tersalurlan itu harus dibuang juh-jauh karena akan membuat otak menjadi berat. Sebagi akibat dari otak yang digerogoti ide tersebut biasanya semangat hidup menjadi lemah. Dalam taraf tententu bisa membuat si empunya sakit jiwa. Mungkin tidak selebay itu, tapi bukan berarti mustahil apabila ada orang gila gara-gara isi otaknya tidak tersalurkan.

Akibat lain dari tidak tersalurkannya isi kepala adalah terjadinya penuaan dini. dengan banyaknya beban pikiran yang akan memberatkan kerja otak maka akan membuat saraf otak bekerja lebih berat. Satu sisi otak harus menjalankan tugas berpikir tapi pada saat yang bersamaan harus menampung sampah pikiran yang tidak temnemukan tempat pembuangan. 

Tugas utama otak yaitu untuk berpikir. Maka setiap hari beban otak yang tidak terpakai ini kita istirahatkan, disalurkan mealui salauran yang tepat. Membiarkannya berada pada justru akan menambah beban.

Oleh karenanya, pikiran penggangu yang menghampiri disetiap kita menulis jangan diambil pusing. Tugas kita ketika menulis adalah mengikuti semua langkah yang ditawarkan otak. Yaitu menuliskan semua yang difatwakannya. Pokoknya tulis semua sampai habis. Baru kemudian jika isi kepala itu sudah habis tertuamg semua saatnya membaca dari awal sampai akhir sambil memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada. 

Untuk memudahkan kita fokus pada apa yang mau ditulis dan tidak tergoda bisikan yang mengharuskan kita berhenti mungkin tips ini bisa dipraktekkan. Pada 10 menit pertama kita harus bertekad untuk terus fokus dan mengabaikan apapun pikiran apapun yang tidak sejalan dengan tujuan awal. Sekuat apapun pikiran yang yang mengusik kita tidak usah pedulikan. Tidak usah banyak protes ikuti ssja semuanya. Kalau tahap ini sudah kita lewati maka biasanya selanjutnya pikiran yang sebemnya beku sekarang menjadi cair, ide yang sebelumnya tidak mau berkembang sekarang malah kekurangan kertas untuk menampungnya karena saking derasnya ide yang berdatangan.

Jadi, sebenarnya hambatan yang sering mengahmpiri penulis pemula itu hanya diawalnya saja. Dia hanya ingin mengetes komitmen kita dalan menulis. Jika dalam 10 menit kita kita mampu bertahan dengan konsentrasi penuh maka hambatan itu akan hilang dengan sendirimya. 

Setelah itu tinggal kita menikmati prosesnya dan pada saatnya nanti kita akan menikmati hasil jerih payah yang kita lakukan yaitu menjadi penulis handal yang sudah teruji. 
Read More
Jangan Benci Orangnya, Tapi Perilakunya

Jangan Benci Orangnya, Tapi Perilakunya

KokopNews, Jangan Benci Orangnya, Tapi PerilakunyaTidak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia mempunyai kelebihan sekaligus kekurangan yang ada pada dirinya. Dalam keadaan tertentu bisa saja dia diberi label tertentu, misalnya jujur, amanah, bertanggung jawab dan lain-lain atau sebaliknya. Bisa juga ada sesorang yang oleh sebagian orang disebut sebagai jujur, amanah atau yang lainnya tapi oleh sebagian yang lain justru diberi label  sebaliknya. 

Jangan Benci Orangnya, Tapi Perilakunya
Gambar : Pixabay.com
Ini menunjukkan bahwa pada diri seseorang ada kelebihan sekaligus ada kelemahan. Termasuk dalam memberi penilaian pada seseorang kita tidak mungkin bisa memberi label pada orang itu yang betul-betul disepakati oleh yang lainnya. Lebih kongkritnya bisa jadi saat ini kita memberi label pada seseorang sebagai orang yang jujur tapi dilain waktu orang yang kita nilai sebagai orang jujur tersebut justru melakukan tindakan korupsi. 

Pemahaman kita tentang seseorang sedekat apapun orang itu dengan kita tidak akan sampai pada kenyataan yang sebenarnya. Jadi, penilain kita pada seseorang bahwa dia jujur, amanah disiplin dan lainnya adalah bersifat kurang lebih saja. Maka tidak usah kaget bila menemui orang yang sebelumnya dinilai sebagai orang yang amanah memegang janji dalam satu waktu justru melakukan pengkhianatan. Sangat berbeda jauh dari penilaian sebelumnya. 

Hal ini harus disadari betul agar tidak terjebak pada penilaian yang keliru. Tidak usah muluk-muluk dalam memberi pujian pada seseorang. Jika memang dia mempunyai citra baik pujilah dia tapi dengan sewajarnya saja. Sebaliknya bila menemui orang yang menampilkan dirinya tidak baik kita boleh membencinya tapi juga dengan sewajarnya. Karena boleh jadi orang yang sekarang kita sanjung dilain waktu dia malah berubah delapan puluh derajat. Atau sebaliknya, ada orang yang saat ini mempunyai citra sebagai orang yang tidak baik dilain waktu justru menjadi orang yang sangat baik.

Inkonsistensi ini wajar karena prilaku lahir dari manusia berpusat pada iman yang ada di hatinya. Semua prilaku manusia, baik atau buruk adalah menjadi cermin dari imannya. Kita tahu iman itu bisa bertambah juga bisa berkurang. Pada saat iman itu bertambah maka akan mendorong si empunya untuk berprilaku sesuai dengan perkembangan imananya. Kalau kebetulan pada saat ini orang tersebut baik maka dengan bertambahnya iman semakin baik pula orang itu. Dan jika imannya malah menurun maka prilaku yang ditampilkannya juga semakin buruk.

Maka agar tidak terjebak pada penilaian yang keluru, dalam menilai seseorang diperlukan kehati-hatian. Seperti yang telah tersebut diatas bahwa jika menemukan orang yang berprilaku tidak baik maka jangan benci orangnya akan tetapi prilaku tidak baik itu yang harus kita benci. Karena kalau orangnya yang kita benci kita akan terjebak jika suatu saat yang kita nilai tidak baik itu justru berubah menjadi orang baik sesuai dengan perkembangan iman yang dimiliki.

Di media sosial seringkali kita menyaksikan identitas yang ditampilkan seseorang sama sekali tidak sesuai dengan identitas aslinya. Ketika ada berita tentang seorang publik figur melakukan hal yang tidak wajar dengan sangat semangatnya mereka mengumpat dan menghujat. Padahal di dunia nyata mereka tidak lebih baik dari publik figur yang diberitakan.

Begitu pula jika ada berita tentang seorang perempuan tua renta hidup sebatangkara yang bertahan hidup hanya dengan memilih barang rosoan mereka dengan spontan menunjukkan keprihatinannya. Tapi di dunia yang sebenarnya ada tetangganya yang satu minggu tidak makan mereka tidak pernah peduli.

Dari penjelasan diatas perlu menjadi perhatian kita bersama bahwa dengan berpijak pada adegium tidak ada manusia yang sempurna kit lebih cerdas dalam memberi penilaian pada orang lain.
Read More
Pesantren, Pilihan Tepat Untuk Pendidikaan Anak

Pesantren, Pilihan Tepat Untuk Pendidikaan Anak


KokopNews- Memilih Pesantren Untuk Pendidikan Anak- Beragam motivasi para orang tua memondokkan anaknya di Pesantren. Mulai dari ingin anaknya mempunyai akhlaq yang baik, terampil dalam bidang agama, mempunyai kedisiplinan yang tinggi, menjdadi pribadi yang berkarakter dan lain-lain.


Pesantren, Pilihan Tepat Untuk Pendidikaan Anak
Gambar : ayomondok.net
Disamping itu ada juga alasan orang tua yang mengirimkan anaknya ke pesantren karena sudah tidak sanggup lagi menjaga anaknya di rumah. Mereka para orang tua khawatir atas pergaulan anak diluar rumah yang sangat rentan masuk pada pergaulan yang tidak baik.


Kita tahu saat ini pergaulan anak sudah sangat mengkhawatirkan dengan banyaknya remaja yang terlibat kasus kriminal mulai dari tauran antar gank, penggunaan narkoba, minuman keras dan hubungan lawan jenis yang sudah tidak dapat dikontrol.

Tentu alasan para orang tua memasukkan anak-anaknya ke pesantren menjadi pilihan yang rasional. Pendidikan di pesantren memang sangat mengedepankan kedisiplinan yang ketat pada para santri. Kalau di rumah seorang remaja bebas menggunakan waktunya untuk apa saja karena orang tua mereka tidak menerapkan aturan yang ketat. Jika pun ada sebagian orang tua yang mnerapkan aturan kepada anaknya, dengan banyaknya kesibukan rumah tangga mereka tidak bisa setiap waktu menjaga atau mengontrol anak-anaknya.

Berbeda dengan di pesantren. Di pesantren ada aturan atau tata tertib yang harus ditaati oleh para santri. Aturan atau tata tertib itu dikawal oleh pengurus dan tidak segan-segan memberi sanksi pada santri yang melanggar. 

Aturan atau tata tertib di pesantren sangat ketat. Dalam tata tertib tersebut diaatur sedemikian rupa kewajiban yang harus ditaati oleh patra santri. Disamping itu juga ada larang-larangan yang tentu tidak boleh dilanggar. Jika peraturan tersebut dilanggar pengurus tidak segan-segan memberikan sanksi sesuai yang tertera di peraturan pesantren. 

Aturan di perbagai pesantren tentu berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan di pesantren terkait. Namun secara umum aturan yang ada di pesantren adalah bagaimana caranya agar para santri fokus belajar dan mengamalkan nilai-nilai islam dengan baik. 

Yang paling sederhana santri tidak boleh keluar pesantren selama 24 jam kecuali mempunyai kepentingan yang dibenarkan oleh pengurus, santri diwajibkan tidur diwaktu yang telah ditetapkan oleh pesantren, santri wajib shalat berjemaah di masjid dan lain-lain. 

Tidak hanya itu, untuk menjaga kedisiplinan pesantren juga menjadwal waktu untuk para santri mulai dari makan, mandi, sekolah dan lain sebagainya. Semua kegiatan selama 24 jam di pesantren diatur sedemikian rupa. Ini tiada lain untuk melatih kedisiplinan para santri.

Kehidupan di pesantren sangat unik. Tradisi pesantren mengharuskan para santri mempunyai sifat hormat pada Kiai dan ustadz-nya. Penghormatan seorang santri pada kiai dan ustadz-nya bukan penghormatan formal seprti pengormatan seorang siswa sekolah pada guru-gurnya. Akan tetapi sebuah penghormatan yang disertai dengan ketawaddu'an. Bahkan ketika yang bersangkutan sudah boyong ke rumahnya mereka masih merasa mempunyai ikatan dengan kiainya, setidaknya sebagai sumber inspirasi dan panduan untuk menjalani kehidupan pribadinya. 


Di pesantren para santri dihadapkan pada persoalan nyata yang terjadi di masyarakat. Bagaimana bergaul dengan sesama baik yang lebih senior atau juniornya dan cara berorganisasi untuk melatih kepemimpinan sehingga diharapkan kelak bisa menjadi pemimpin masyarakat di daerahnya. Hal-hal seperti itu ditempa di pesantren. 


Tidak hanya itu, di pesantren para santri juga terbiasa dengan pergaulan dengan beragam komunitas. Adanya Santri yang berasal dari berbagai budaya dan suku mengharuskan para santri mempunyai rasa toleransi terhadap temannya. Sehingga para santri terbiasa dengan perbedaan dan keberagaman. 

Para santri juga diajari berbagai madzhab dalam islam. Madzhab fiqh yang empat yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali menjadi kajian sehari-hari para santri. Mereka diajak memahami berbagai madzhab dan argumentasinya sehingga perbedaan madzhab tidak menjadikan mereka sebagai orang yang fanatik. Mereka terbiasa dengan perbedaan itu.

Dengan nilai-nilai yang menjadi tradisi pesantren tersebut diharapkan para santri kelak menjalani kehidupan di masyarakat dengan baik. Dan itu semua sudah terbukti dengan banyaknya alumni pesantren yang berperan ditengah-tengah masyarakat.

Pesantren ada pilihan yang tepat para orang tua sebagai tempat pendidikan anak-anaknya. Karena di pesantren kedisiplinan, pengajaran agama dan penerapannya, sikap toleransi terhadap perbedaan, akhlaqul karimah dan pembelajaran berorganisasi menjadi perhatian utama.


Baca Juga Ayo Mondok
Read More
Target Membuat Tiga Buah Tulisan setiap Hari Tidak Tercapai

Target Membuat Tiga Buah Tulisan setiap Hari Tidak Tercapai

KokopNews, Target Membuat Tiga Buah Tulisan setiap Hari Tidak Tercapai - Target menulis tiga buah tulisan setiap hari yang saya canangkan mulai dari kemaren tidak tercapai. Untuk hari Rabu kemaren saya hanya bisa menghasilkan dua buah tulisan.  

Target Membuat Tiga Buah Tulisan setiap Hari Tidak Tercapai
Gambar: Pixabay
Memang menulis tidak mudah. Membuat tulisan sederhana saja sulitnya minta ampun apalagi disuruh membuat tulisan yang bermutu dengan tema-tema berat atau aktual. Dua tulisan yang saya hasilkan kemaren masih berkisar pada pengalaman pribadi yang saya alami dalam mengarungi dunia kepenulisan. Sejak berkomitmen belajar menulis belum ada satupun tulisan berat yang saya hasilkan. 

Namun semua itu tidak membuat saya patah semangat. Perasaan putus asa memang sempat mengahmpiri. Tapi cepat-cepat saya buang perasaan penghambat tersebut. Karena saya sadar bahwa untuk menjadi penulis yang mahir memang harus menghadapi jatuh bangun ketika masih belajar. Tidak ada kata sukses tanpa halangan. 

Begitu pula dalam menulis. Untuk sampai pada taraf mahir diperlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Sebelum betul-betul bisa menulis harus terlebih dahulu mengalami pahitnya merangkai kata. Bahkan penulis yang sudah handal pun juga mengalami hal yang sama diwaktu masih belajar. 

Belajar menulis yang baik bukan hanya mengembangkan kemampuan menuangkan ide kedalam bentuk tulisan. Akan tetapi juga harus mampu mengalahkan semua godaan dan hambatan yang mengampiri. Karena dengan cara itu kita lebih enjoy dalam menulis tanpa peduli terhadap kesulitan yang tidak mungkin dihindari. 

Oleh karenanya kita harus membangun pertahanan diri sehingga apapbila suatu saat ada hambatan yang datang menghadang dengan mudah bisa dilawan.

Jika hanya fokus merangkai kata maka bukan tidak mungkin suatu saat aktivitas itu akan berhenti ketika mengahdapi masalah. Ingat, tidak ada pekejaan yang tidak ada hambatannya. Apalagi menulis yang memang membutuhkan ketekunan dan motivasi yang kuat. Disetiap melakukan apapun pasti ada saja sesuatu yang mendorong kita untuk berhenti, entah kecil atau besar. 

Jadi bagi kita yang masih belajar menulis harus sadar betul bahwa pekerjaan ini sangat beresiko, yaitu resiko gagal. Hanya dengan tekad kuat disertai ikhtiar yang tidak henti-hentinya kita bisa mencapai tingkat mahir.

Ini adalah tulisan ketiga pasca deklarasi "menulis tiga buah tulisan setiap hari". Walaupun belum tercapai saya tetap mempertahankan semangat menulis yang menggebu-gebu. Tidak ada alasan untuk mundur. Karena kalau mundur justru saya akan menjadi pecundang yang tidak ada artinya. 

Oleh sebab itu, walaupun dengan rasa payah dan berat saya berusaha untuk tetap menulis. Karena hanya dengan cara ini  kemampuan menulis yang saya miliki bisa berkembang. Kemampuan ini akan berkembang seiring dengan seringnya melatih mengungkapkan semua yang terlintas pada otak kedalam tulisan. Kesana-kemari saya mencari tips jitu menulis. Dari semua hasil pencarian saya itu yang paling ampuh hanya satu yaitu membiasakan menulis tanpa henti.

Tidak ada tips khusus bagi pemula seperti saya kecuali hanya menulis dan menulis terus sampai capek. Pancing semua isi otak itu keluar dari persembunyiannya. Kalau dibiarkan mengendap maka akan menjadi penyakit yang sulit disembuhkan. ingat, penyakit yang diakibatkan menumpuknya isi kepala akan membuat kita tidak mempunyai semangat hidup. Semakin dibiarjan maka akan semakain membuat kita terpuruk. 

Maka,mumpung belum berkembang biak dan membebani kepala cepat-cepat paksa keluar dan buanglah diatas kertas atau media apa saja yang bisa menampungnya. Asal jangan dibiarkan menggrogoti kepala. 

Itulah yang saya lakukan di minggu terakhir ini. Dari semua aktivitas harian saya, menulis saya letakkan pada posisi paling penting. 

Hal ini bukan berarti aktivitas menulis yang saya lakukan membuang mengorbankan aktivitas yang lain. Akan tetapi saya berusaha menulis sebisa mungkin disela-sela kesibukan harian saya. 


Harapannya hanya satu, Menerbitkan buku pada akhir 2017. Amin

Hehehe....

Read More
Edisi Memaksakan Menulis, Koreksilah Tulisan Saya

Edisi Memaksakan Menulis, Koreksilah Tulisan Saya

KokopNews, Edisi Memaksakan Menulis - Untuk memenuhi target menulis sebanyak tiga buah tulisan setiap hari memaksa saya untuk memutar otak agar target tersebut tercapai. Siang tadi saya sudah menulis satu artikel, Dan kali ini saya menulis untuk yang kedua kalinya. 


Edisi memaksakan menulis, koreksilah tulisan saya
Gambar : pixabay
Karena didorong oleh target yang pada dasarnya, sebagai pemula, sangat sulit saya realisasikan maka saya mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan untuk mengejar target tersebut. Hal ini saya lakukan demi cita-cita menjadi penulis. 

Seperti yang sudah-sudah, tidak ada tema khusus yang akan saya tulis pada kesempatan kali ini. Yang bisa saya lakukan adalah menulis saja mengikuti irama hati dan otak. Kemanapun hati dan otak itu melangkah jari-jemari saya senantiasa mengikutinya. Walaupun hati dan otak saya seringkali tersesat saya berusaha tidak memprotesnya. Tak elok rasanya menyetop perjalanan otak dan hati yang saya sendiripun tidak lebih tahu dari keduanya.

Saat ini saya hanya sebagai orang yang sedang merangkak belajar menulis dari nol. Menulis membutuhkan ide sebagai isi dari tulisan itu. Tanpa ide niscaya tidak pernah tercipta sebuah tulisan. Karena tulisan itu adalah rangkaian dari ide-ide yang disusun secara sistematis sehingga membentuk ide pokok yang dijelaskan melalui ide turunannya. Namun, saya sendiri kesulitan dalam menemukan ide itu. 

Oleh karenanya, dalam menulis saya tidak mencari ide. Seperti saat ini saya langsung saja menulis mengikuti apapun yang dibicarakan oleh otak. Sampai saat ini saya belum tahu apa sebanarnya yang hendak saya tulis. Makanya apa yang saya tulis sekarang ini baru diketahui arahnya setelah semuanya rampung. Baru kemudian saya cari inti atau pesan yang terkandung didalmnya kemudian menentukan judul. 


Edisi memaksakan menulis, koreksilah tulisan saya
Gambar : pixabay
Jadi kalau pembaca merasa bahwa tulisan saya ini tidak mengandung pesan yang jelas dan arahnya pun membuat bingung tidak usah jemu. Teruslah baca tulisan ini sampai habis. Dan saya sangat berharap pembaca memberikan koreksi atas tulisan ini agar saya sebagai penulisnya dapat mengetahui letak tidak jelasnya untuk kemudian diadakan perbaikan sehingga cita-cita menjadi penulis betul-betul terealisasi. 

Bukan hanya anda yang mengerutkan dahi ketika membaca tulisan ini. Sebelum di publish di blog saya sudah menyadari bahwa tulisan ini sangat jelek. Namun saya tidak tahu cara memperbaikinya. 

Makanya saya membutuhkan anda sebagai pembaca untuk memberikan masukan atau kritikan dan menunjukkan kesalahan-kesalahan yang ada. Bila perlu kalau menemukan ketidak beresan pada tulisan ini silahkan beri tahusaya bagaimana cara memperbaikinya sehingga saya dengan mudah melukan revisi. 

Bukan maksud saya untuk merepotkan anda sekalian. Saya belajar menulis secara otodidak. Tidak mempunyai guru khusus dalam bidang menulis ini. Satu-tunya orang yang bisa saya mintai tolong untuk mengoreksi tulisan ini hanyalah anda. Maka, sudilah anda membantu saya. Bukankah agama kita mengajarkan tentang saling tolong menolong dalam kebaikan. Allah menyediakan pahala yang sangat besar kepada orang yang membantu kebaikan. 

Dan saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pekerjaan menulis itu merupakan kebaikan yang disukai oleh Allah. Karena menulis adalah salah satu cara untuk mengabadikan ilmu agar tetap utuh sehingga bisa dipelajari oleh generasi selanjutnya. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Allah tidak mencabut ilmu dari muka bumi ini dengan cara mencabut ilmu itu sendiri akan tetapi Allah mencabutnya melalui diwafatkannya orang yang ahli ilmu. 

Coba kita bayangkan seandainya ahli ilmu terdahulu itu tidak menuliskan ilmu yang dimilikinya niscaya kita sebagai generasi penerus tidak akan mengerti tentang kebaikan itu. Kita tidak akan bisa beribadah dengan baik karena tidak mengetahui tatcaranya. Akan tetapi melalui tulisan para ahli ilmu itiu kita bisa membaca dan mempelajari tentang segala hal baik terkait dengan ibadah atau sosial.

Selain itu ada juga hadist yang menjelaskan bahwa kita sebagai umat Muhammad diwajibkan menyampaikan kebenaran itu walaupun hanya satu ayat. Ini menjadi bukti bahwa berbagi itu merupakan salah satu tuntutan agama. Menulis adalah satu media untuk menyampaikan kebenaran itu. Bahkan dari pada lisan, tulisan lebih besar manfaatnya katrena bisa menjangkau orang banyak. Dengan hanya mempunyai tulisan yang kita sebar bisa jadi ada ribuan bahkan jutaan orang yang tercerahkan melalui tulisan kita itu.

Oleh karenanya, dengan bersedia mengoreksi tulisan yang saya buat ini saya yakin anda berada pada garis yang benar dan anda berhak atas pahala yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. 

Saya sangat senang bisa menyelesaikan tulisan ini. Hal ini bukan karena tulisan ini bagus tetapi lebih pada kemampuan saya menuangkan semua unek-unek yang ada di kepala yang menurut saya sulitnya minta ampun. Mungkin menurut anda apa yang saya lakukan ini tidak ada apa-apanya. Tapi menurut saya adalah prestasi yang sangat luar biasa.

Read More
Edisi Bangun Tidur: Munculnya Keinginan Menulis

Edisi Bangun Tidur: Munculnya Keinginan Menulis

KokopNews, Edisi Bangun Tidur: Munculnya Keinginan Menulis - Setelah sebelumnya  menulis dalam keadaan ngantuk sebagaimana yang saya singgung pada tulisan sebelumnya. Saat ini saya menulis dalam keadaan belum mandi. Kebetulan tadi, sekitar pukul 14.30, terbangun gegara ada suara hape yang berbunyi lumayan kencang. Akhirnya saya bangun mengangkatnya. Setelah bangun, eh tiba-tiba tidak bisa tidur lagi. Karena waktu berbuka puasa masih lama dan untuk langsung mandi malesnya minta ampun ya sudah  saya gunakan untuk menulis.


Edisi Bangun Tidur: Munculnya Keinginan Menulis
Gambar : pixabay
Kebetulan, selepas menulis tadi pagi laptop saya letakkan disamping. Memang niatnya begitu bangun tidur langsung menulis. Menulis ini saya jadikan kegiatan rutin setiap  hari minimal 500 kata. Rutinitas ini berjalan sudah beberapa lama, kira-kira empat bulan yang lalu. Namun, dipertangahan jalan banyak kendala yang saya temui sehingga sempat vakum beberapa waktu. Selama vakum sebenarnya keinginan menulis itu masih ada namun dengan berbagai alasan keinginan tersebut tidak bisa dieksekusi. 

Keinginan menulis itu timbul pada diri saya berawal dari sekedar membaca artikel kepunyaan teman. Kebetulan saya mempunyai teman yang gemar menulis. Setiap ada kesempatan dia pasti menulis. Dalam sehari dia bisa menulis sampai lima tulisan. Hal Ini dia lakukan seolah tanpa ada beban. Bagi dia yang memang sudah terbiasa, menulis tak ubahnya berkomunikasi lewat lisan. Di tangnnya, kejadian yang biasa-biasa saja akan menjadi luar biasa karena dia mampu megemasnya dengan baik. Ada saja ide yang mau ditulis.

Setiap hari saya salalu mengikuti tulisan yang dia share di media soial. Dari sekedar membaca isi artikelnya timbullah keinginan untuk menulis. Akhirnya saya mencoba menuangkan isi pikiran kedalam tulisan. Eh ternyata saya tidak mampu menyelesaikan tulisan tersebut. Padahal waktu itu banyak ide yang bergoyang di kepala. Namun begitu dituliskan hanya mampu sampai beberapa kata. Tiba-tiba pikiran mandek dan tentu tangan juga ikut mandek. Akhirnya saya berhenti menulis.

Dalam proses berhenti ini saya mencari informasi mengenai penulis pemula dan segenap tantangannya. Satu-satunya tempat yang menyediakan segala informasi adalah mbah Google. Banyak informasi seputar kepenulisan yang saya dapat dari mesin pencari tersebut. Dengan berbekal informasi ini saya mulai kembali menulis. Kali ini tentu ada semangat baru yang saya bawa dari rumahnya mbah google.

Untuk tahap awal saya memulai dari pengalaman sehari-hari, mulai dari kegiatan sehari-hari sampai dengan suasana hati yang ada pada waktu itu. Perasaan senang, susah, galau, marah dan sebagainya saya ungkapkan lewat tulisan. Walaupun agak sulit saya bisa melewati kesulitan itu sedikit demi sedikit. Saya menyadari bahwa menulis itu bukan masalah bakat, akan tetapi sebuah kebiasaan yang dilakukan secara kontinyu sehingga sampai pada satu titik dimana kendala menuliskan kata itu sangat mudah.

Edisi Bangun Tidur: Munculnya Keinginan Menulis
Gambar : pixabay
Bagi saya menulis itu menyenangkan. Dengan menulis pikiran menjadi ringan, unek-unek bisa dikeluarkan. Disamping itu, menulis bisa membuat cerdas karena menulis pasti berfikir. Kita tahu orang yang selalu menfungsikan otaknya akan semakin cerdas. Cerdas dalam arti dapat menyelesaikan persoalan hidupnya secara elegan dengan pengalaman-pengalaman yang ia punya.  

Oleh karenanya, sebisa mungkin saya menulis tentang apa saja yang saya kuasai. Ini memang komitmen saya dari beberapa waktu yang lalu. Termasuk saat ini dimana saya baru bangun tidur dan belum mandi saya sempatkan menulis. Tentu, sebagaimana anda tahu bahwa yang saya tulis saat ini masih seputar pengalaman saya dalam mengarungi dunia kepenulisan. 

Jadi, kalau anda mencari informasi yang aktual saya kira tempatnya bukan disini. Di lapak saya ini hanya berisi tulisan pengalaman pribadi dalam belajar menulis. 

Akan tetapi apa salahnya jika anda menyempatkan diri untuk membaca dan kalau bisa memberi masukan atau kritikan sehingga kedepannya saya bisa membuat tulisan yang bagus. Seandainya itu terjadi betapa indahnya dunia ini. Antar satu orang dengan orang yang lain saling membantu dalam kebaikan. Bukankah ini sangat dianjurkan dalam al-quran..hehehhe. Kok malah ceramah ya?? Ya sudah ah idenya sudah habis. Sampai ketemu lagi pada tulisan selanjutnya...
Read More
Dalam Keadaan Ngantuk pun Saya Menulis

Dalam Keadaan Ngantuk pun Saya Menulis

KokopNews, Dalam Keadaan Ngantuk Pun Saya Menulis - Sebenarnya saat ini saya ngantuk banget karena mulai dari kemaren malam tidak tidur sama sekali. Memang semenjak bulan puasa ini jadwal tidur saya digeser setelah subuh. 


Gambar : Pixabay

Namun karena didorong oleh keinginan menulis yang sudah menggebu-gebu akhirnya saya paksakan menulis, walaupun dengan kondisi mengantuk seperti ini sangat sulit membuat tulisan. Apalagi ditambah dengan tidak adanya ide yang mau ditulis.



Walaupun demikian, untuk memenuhi hasrat menulis tersebut, kali ini saya menulis tentang apa saja yang ada di otak. Bahkan pada saat tangan saya bergoyang diatas Keyboard ini saya belum tahu judul tulisan yang akan saya buat. 


Tidak dipungkiri bahwa menulis itu tidak mudah, apalagi untuk pemula seperti saya. Butuh keinginan kuat disertai dengan latihan terus menerus untuk mencapai tingkat mahir menulis.

Tapi bukan berarti menulis itu mustahil dilakukan. Menulis itu sulit hanya di awalnya saja. Kalau kegiatan ini dilakukan  secara kontinyu maka kesulitan itu akan hilang dengan sendirinya. 

Menulis bukan hanya haknya orang yang paling tidak wartawan, guru Bahasa Indonesia, penulis yang sudah handal atau orang-orang yang sudah terkenal dalam bidang kepenulisan. Akan tetpai menulis adalah milik semua orang. Siapapun itu termasuk kita yang belum pernah sekalipun bersinggungan dengan kepenulisan juga bisa menjadi penulis. 

Jadi menulis itu tidak mengenal latar belakang. Siapapun berhak dan bisa menulis asal mau memulai. 

Ya, menulis itu bukan teori. Akan tetapi menulis adalah menulis. Untuk bisa menuangkan ide kedalam tulisan kata kuncinya adalah menulis. 

Namun hal ini masih menimbulkan kendala khususnya bagi penulis pemula. Mereka kebingunan dalam memulai menulis. Mau menulis apa?, memulainya dari mana?, bagaiamana cara mengembangkan ide?, ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang seringkali menghinggapi orang yang baru belajar menulis. 

Tentang keluhan-keluhan tersebut, ada solusi jitu untuk menangkalnya. Seperti misalnya pertanyaan pertama, mau menulis?. Untuk yang pertama ini bisa dijelaskan sebagai berikut.

Sebenarnya banyak hal yang bisa kita tulis. Setiap hari tentu banyak kejadian yang ada disekeliling kita, baik yang sifatnay menarik atau tidak, yang bisa dijadikan bahan atau ide menulis. Atau bisa juga sebagai tahap awal kita menuliskan kegiatan yang kita lakukan sehari-hari mulai bangun tidur sampai tidur lagi.

Sebagai pemula kita harus realistis. Jangan mencari ide tulisan yang tidak kita kuasai. Karena hanya akan membuagt kita berhenti belajar. Mulailah dari hal-hal sederhana yang kita alami sehari-hari. 

Yang paling penting bukan bobot dari ide tersebut. Akan tetapi keberanian kita untuk menuangkan ide tersebut kedalam bentuk kalimat sehingga menjadi tulisan yang bisa dibaca. 

Dalam tahap ini tentu hasil tulisan yang kita buat hanya berupa tulisan pribadi yang mungkin masih belum layak dibaca karena penulisannya asal-asalan. Tetapi tidak usah berkecil hati. Teruslah lakukan latihan tersebut setiap hari hingga sampai pada titik mudah membuagt tulisan. 

Kebetulan, saat ini saya juga tidak jauh beda dengan anda yang masih baru belajar menulis. Makanya tulisan yang saya buat ini hanya menggambarkan keadaan diri saya yang masih belum lancar menulis.

Kendala yang saya alami dalam belajar sama persis seperti yang saya sebut diatas. Saya kesulitan memulai menulis. Saya tidak tahu harus memulainya dari mana. Ketika ide yang akan ditulis muncul kemudian saya tuliskan masih saja ada kendala baru yang mengahmpiri yaitu kesulitan mengembangkan ide tulisan. Sehingga tulisan yang saya buat sangat pendek sekali.

Makanya walaupun kondisi saya sangat ngantuk karena begadang semalaman, saya tetap memaksakan menulis. Saya tidak akan bisa lelap tidur kalau belum menuangkan unek-unek yang menumpuk di kepala. Kebiasaan menulis ini saya lakukan setiap hari.

Komitmen yang saya tekankan pada diri saya adalah setiap hari harus menghasilkan tulisan setidak-tidaknya 500 kata. Dalam hal ini saya tidak membicarakan kualitas. Karena pada tahap ini saya ingin kendala kesulitan mengembangkan ide cepat-cepat hilang dari diri saya.

Dan alhamdulillah dalam keadaan ngantuk ini saya bisa menulis sebanyak 600 kata. Karena sudah lebih dari target, yaitu 500 kata saya tutup saja tulisan ini. Sekarang waktunya melelapkan diri. Siapa tahu nanti mendapat wangsit dari penulis-penulis terkenal sehingga saya bisa seperti mereka. Targetnya akhir tahun 2016 saya bisa menerbitkan buku. Amiiiin
Read More
Lika Liku Belajar Menulis

Lika Liku Belajar Menulis

KokopNews, Lika Liku Belajar Menulis - Keinginan menulis selalu menggebu-gebu. Tapi begitu membuka word serasa otak jadi blank, ide yang akan ditulis tidak kunjung muncul. Penyakit ini selalu saja muncul disetiap ada keinginan menulis. Kalau cita-cita menjadi penulis tidak perlu diragukan.


Lika liku belajar menulis
Gambar : pixabay
Buktinya saya selalu antusias dan senang ketika membaca artikel baik di internet ataupun di koran. Bahkan setiap kali membaca tulisan, keinginan menulis itu semakin menjadi-jadi. Namun problemnya ketika keinginan tersebut mau dieksekusi justru tangan tidak bisa bergerak. Ide hilang atau tidak muncul sama sekali.

Tidak hanya itu, seringkali ketika ide itu muncul kesulitan yang baru menghampiri, yaitu saya merasa kesulitan mengembangkan ide tersebut. Sehingga tulisan yang saya buat tidak lebih dari satu paragraf. Ada apa dengan diri saya??. Apakah saya memang tidak bakat menulis???. Saya browsing di internet tentang penyakit yang saya alami. 

Di internet banyak solusi yang saya dapatkan. Kata mereka menulis itu bukan bakat tapi kebiasaan yang dilakukan terus menerus sehingga sampai pada titik dimana kita lancar menulis. 

Sehabis mencari solusi di internet semangat untuk menulis muncul lagi bahkan dengan gairah yang lebih besar. Saya kembali menulis. Namun tetap saja tidak ada perkembangan pada diri saya kecuali hanya bertambahnya semangat yang bertepuk sebelah tangan. Lagi-lagi saya galau memikirkan diri saya yang kesulitan menuangkan ide dalam bentuk tulisan. 


Lika liku belajar menulis
Gambar : pixabay
Setelah itu tidak ada lagi yang bisa saya lakukan kecuali mengadukan problem yang saya alami kepada mbah google untuk kedua kalinya. Ini saya lakukan karena saya tidak mempunyai mentor yang bisa saya jadikan tempat mengeluh. Mbah google yang katanya serba tau adalah satu-satunya tempat curhat saya. 

Untuk kedua kalinya saya mengeluh pada mbah google. Di kolom pencarian saya tulis “Cara belajar menulis untuk pemula”  kemudian saya enter. Banyak tulisan yang mucul sebagai hasil dari pencarian saya. Diantaranya, untuk penulis yang masih pemula seperti saya, disarankan untuk menerapkan metode menulis bebas. 

Menulis bebas adalah menulis apa saja yang terlintas pada otak. Pada tahap ini jangan hiraukan teori menulis yang ada di buku-buku. Kesalahan seperti salah ketik, titik koma yang tidak pada tempatnya, paragraf yang tidak nyambung dan lain-lain tidak boleh dihiraukan. Terus tuangkan semua unek-unek yang ada di kepala sampai habis. 

Bahkan meneurut artikel yang saya baca itu, jangan sampai menekan tombol blackspace. Sebisa mungkin bermusuhlah dengan tombol tersebut. Separah apapun kesalahan yang sudah kita lakukan, jangan perdulikan.

Setelah membaca artikel tersebut untuk yang kesekian kalinya saya membuka laptop dengan membawa semangat yang baru. Saya coba praktekkan tips yang disarankan mbah google tersebut. Kali ini saya menerapkan metode menulis bebas. Ketika word sudah terbuka saya tulis semua yang ada di otak saya. Saya lakukan seperti yang disarankan oileh mbah google tadi. 

Namun setelah berkali-kali saya mempraktekkannya, justru saya merasa jenuh dan semangat yang awalnya menggebu-gebu kembali memudar. Pasalnya, ketika saya membaca hasil tulisan yang saya buat, saya kok merasa jelek banget. Sangat tidak layak untuk dibaca sendiri apalagi dibaca orang lain. 

Dengan pengalaman ini saya mulai putus asa belajar menulis. Saya berkesimpulan bahwa menulis itu sulit, tidak mudah seperti yang banyak orang katakan. Bohong besar kalau ada orang bilang menulis itu mudah. Buktinya saya sampai jungkir balik untuk hanya menghasilkan satu lembar tulisan dengan tips dan triks yang saya dapat dari google tapi kemampuan menulis saya tidak ada perkembangan. 

Mulai saat ini saya berhenti menulis karena saya tidak akan bisa menulis. Itulah kesimpulan saya setelah beberapa kali mencoba menulis tapi selalu gagal. Sementara ini belum ada satupun tulisan yang saya selesaikan. Tulisan yang saya hasilkan setelah menerapkan saran dari mbah google diatas sama sekali bukan tulisan yang layak dibaca sehingga tidak bisa disebut tulisan. 

Dengan pengalaman pahit ini bebrapa bulan saya buang jauh-jauh keinginan bisa menulis. Laptop yang biasanya saya gunakan untuk mencari motivasi menulis sekarang berubah haluan. Lebih baik membuka media sosial daripada memikirkan tentang menulis yang tidak akan saya kuasai. 

Lika liku belajar menulis
Gambar : pixabay
Kondisi ini berjalan beberapa bulan sehingga pada suatu hari pada saat saya membuka akun facebook ada tautan yang lewat di beranda saya yang isinya adalah tentang hambatan menulis untuk pemula. 

Dengan tidak terlalu bersemangat saya buka tautan tersebut. Setelah saya mebaca isi tautan tersebut keinginan menulis yang sudah saya kubur bebrapa bulan yang lalu kini muncul kembali. Pada tautan tersebut terdapat banyak solusi untuk kendala yang saya hadapai dalam belajar menulis. 

Solusi yang paling cocok untuk saya adalah artikel yang mengulas secara detail tentang cara mengembangkan ide tulisan. Karena yang selama ini saya alami adalah sulitnya mengembangkan ide. 

Ketika saya mempunyai ide dan kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan, ide tersebut tidak bisa berkembang menjadi setidaknya satu halaman. Sehingga saya melupakan kegiatan belajar itu. Namun semenjak membaca artikel yang nyangkut di beranda fb saya tersebut saya mulai bergairah kembali belajar menulis sampai sekarang.

Jadi tulisan ini bukanlah tulisan yang bagus. Sama sekali bukan tulisan yang harus dibanggakan. Tulisan ini sengaja saya publish hanya untuk mengasah kepercayaan diri saya dalam menulis. 

Saya sadar bahwa tulisan ini sangat jelek yang hanya berisi curhatan yang mungkin tidak ada manfaatnya untuk orang lain. Tapi, melalui tulisan ini setidaknya saya menegaskan komitmen untuk diri saya sendiri bahwa saya tidak boleh berhenti belajar. Menulis harus tetap saya jadikan prioritas disela-sela aktivitas harian saya. Siapa tahu suatu saat nanti saya betul-betul bisa menulis dengan lancar dan menghasilkan tulisan yang bagus dan bermanfaat.
Read More
Menjamurnya Lembaga Pengumpul Zakat

Menjamurnya Lembaga Pengumpul Zakat

KokopNews, Menjamurnya Lembaga Pengumpul Zakat - Puasa sudah hampir 20 hari dijalani. Masyarakat yang berkewajiban menunaikan zakat berbondong-bondong menyetorkan zakatnya pada lembaga terkait. Disamping itu banyak lembaga zakat yang mulai beraksi mengumpulkan zakat mulai dari lembaga zakat yang dibentuk pemerintah sampai takmir masjid dan musholla yang ada di kampung-kampung. 


Lebaga zakat yang ada bisa diklasifikasi menjadi dua bagian. Pertama adalah lembaga yang dibentuk oleh pemerintah. Kedua adalah lembaga yang dibentuk oleh organisasi kemasyarakatan, seperti yang dibentuk oleh Muhammadiah, NU, Hidaytatullah DLL. Masuk dalam ketegori kedua ini adalah pengumpul zakat yang diinisiasi oleh masyarakat melalui masjid-masjid atau musholla. 

Pengklasifikasian ini perlu diketahui oleh masyarakat yang zakatnya menggunakan jasa lembaga. Dengan kata lain zakatnya tidak langsung diserahkan sendiri kepada yang berhak akan tetapi disetorkan kepada lembaga pengumpul zakat. Karena penyetoran zakat pada lembaga akan berimplikasi pada sah tidaknya zakt yang ditunaikan jika zakat tersebut tidak disalurkan pada orang yang betul-betul berhak.

Menurut hukum fiqh yang banyak dibahas oleh para ulama bahwa zakat yang disetorkan pada lembaga yang dibentuk oleh pemerintah atau yang dalam istilah fiqh disebut amil, dia sudah dianggap gugur kewajiban zakatnya walaupun dalam kenyataannya zakat yang disetorkan kebetulan tidak sampai pada yang berhak. Karena lembaga amil yang dibentuk oleh pemerintah secara hukum fiqh menjadi wakil dari penerima zakat.

Sebaliknya, zakat yang disetorkan melalui lembaga yang dibentuk oleh organisasi kemasyarakatan termasuk disini adalah masjid-masjid atau musholla keabsahannya tergantung dari penyaluran zakat tersebut. Dalam artian jika lembaga zakat tersebut betul-betul disalurkan pada yang berhak maka sah dan sebeliknya jika zakat tersebut tidak sampai pada yang berhak maka tidak sah. Hal ini karena lembaga yang dibentuk oleh selain pemerintah bukan menjadi wakil dari mustahik tapi wakil dari pembayar zakat. Jadi, selama zakat itu belum sampai pada yang berhak maka zakatnya belum dianggap sah.

Oleh karenanya, sebelum menyerahkan zakat pada lembaga terkait terlebih dahulu harus diteliti legalitas lembaga tersebut. Jangan sampai sembrono menyerahkan zakat pada lembaga yang belum jelas juntrungannya. Karena akan berakibat pada keabsahan zakat yang ditunaikan. 

Sebenarnya menyerahkan zakat pada lembaga zakat itu lebih baik dibanding menyerahkan sendiri pada yang berhak. Karena kalau melalui lembaga zakat yang disetorkan menjadi produktiv. Berbeda dengan ketika zakat langsung diserahkan pada mustahik, maka disini zakat yang disetorkan tidak produktiv dan sangat jauh dari semangat zakat yang sesungguhnya yaitu untuk mengentaskan kemiskinan. Akan tetapi dengan menjamurnya lembaga pengumpul zakat belakangan ini masyarakat tentu harus lebih selektif agar kewajiban zakatnya tetap tersalur pada orang yang betul-betul berhak.

Dan juga masalah yang sering luput dari perhatian masyarakat dan juga lembaga pengumpul zakat itu sendiri bahwa kata "amil" yang dalam al quran disebutkan merupakan salah satu golongan yang berhak menerima zakat. Menurut para ulama Amil adalah orang yang bekerja mengumpulkan, mencatat, menimbang atau menakar dan mendistribukan zakat dan mendapatkan mandat dari pemerintah secara langsung. Dengan kata lain untuk bisa menjadi Amil yang berhak menerima zakat dia harus diangkat oleh pemerintah. Maka, Lembaga yang bisa disebut Amil hanyalah lembaga yang dibentuk oleh pemerintah. Sedangkan lembaga yang dibentuk oleh ormas atau takmir masjid dan mosholla tidaklah masuk dalam kategori Amil. Ini harus dipahami karena banyak masyarakat kita yang tidak mengerti. Sebagai akibatnya banyak zakat yang tidak sah jika dalam lembaga pengumpul zakat karyawannya juga menerima dengan mengklaim dirinya sebagai amil.

Oleh karenanya pemerintah harus memberitahu kepada masyarakat tentang hal tersebut. Bila perlu lembaga yang dibentuk oleh selain pemerintah yang telah terbukti amanah diberi SK pengangkatan agar lembaga tersebut bisa termasuk Amil sehingga karyawannya masuk kategori penerima zakat.

Read More